Menteri P2MI Buka SMK Go Global, Siapkan Pekerja Migran Terampil dan Berdaya Saing

  • 26 Agt 2026 19:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri P2MI Mukhtarudin resmi membuka program SMK Go Global pada Rabu, 26 Agustus 2026 di Balai Diklat Industri Jakarta Timur.
  • Program ini dirancang sebagai bentuk perlindungan hulu bagi calon pekerja migran Indonesia dengan membekali keterampilan, kompetensi, bahasa, dan sertifikasi internasional.
  • SMK Go Global memastikan peserta siap bekerja di pasar kerja internasional melalui jalur kerja yang aman dan sesuai dengan standar global.

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri P2MI Mukhtarudin membuka program SMK Go Global untuk menyiapkan calon pekerja migran Indonesia yang kompetitif secara global. Program tersebut membekali peserta dengan keterampilan, kompetensi, dan kesiapan menghadapi kebutuhan pasar kerja internasional yang terus berkembang.

"SMK Go Global merupakan bentuk pelindungan dari hulu. Peserta dibekali kompetensi, bahasa, serta sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang aman," kata Mukhtarudin di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta Timur, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara yang menghadapi persoalan penuaan populasi. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan dan kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.

Meski demikian, Mukhtarudin menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan penyediaan lapangan kerja di dalam negeri. Program tersebut disiapkan bagi masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri melalui prosedur resmi.

"Pemerintah tetap memprioritaskan penyediaan lapangan kerja di dalam negeri. Tetapi bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri, kita siapkan fasilitas dan aturan agar mereka dapat bekerja secara resmi," ujarnya.

Program SMK Go Global merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penyiapan 500 ribu tenaga kerja terampil. Sebanyak 300 ribu peserta ditargetkan berasal dari lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Sementara 200 ribu peserta lainnya berasal dari pendaftar umum, termasuk lulusan SMA, diploma, hingga perguruan tinggi. Penyiapan calon pekerja migran dilakukan secara bertahap.

Pemerintah menargetkan sebanyak 40 ribu peserta pada 2026, kemudian 140 ribu peserta pada 2027. Serta, 180 ribu peserta pada 2028, serta 140 ribu peserta pada 2029.

Mukhtarudin mengatakan pelaksanaan program tidak hanya berorientasi pada jumlah peserta. Pemerintah juga berupaya memastikan kompetensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.

"Yang kita siapkan bukan sekadar tenaga kerja untuk diberangkatkan. Tetapi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan mampu memenuhi standar kebutuhan industri di negara tujuan," katanya.

Kementerian P2MI menyiapkan sekitar 2.000 kelas pelatihan yang tersebar di 23 wilayah kerja BP3MI. Peserta program nantinya diproyeksikan mengisi peluang kerja di sejumlah negara, seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Singapura.

Serta, Turki, Taiwan, Maladewa, serta sejumlah negara di kawasan Eropa. Mukhtarudin menyebut antusiasme masyarakat terhadap program SMK Go Global cukup tinggi.

Program SMK Go Global juga mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Plt Kepala BPSDMI Kemenperin, Emmy Suryandari, mengatakan kolaborasi menjadi upaya menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan standar industri.

"Kementerian Perindustrian berperan di sisi hulu untuk menyiapkan skill dan kompetensi teknis dari para pekerja. Sementara itu, Kementerian P2MI berperan di sisi hilir membuka akses pasar kerja, menempatkan lulusan, dan memberikan payung perlindungan," kata Emmy.

Kemenperin mengoptimalkan tujuh Balai Diklat Industri (BDI) untuk mendukung program tersebut. Ketujuh BDI tersebut berada di Jakarta, Medan, Padang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.

Menurut Emmy, pembekalan calon PMI dalam program SMK Go Global berfokus pada tiga aspek utama. Yakni pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi kompetensi, serta penguatan etos kerja.

Pelatihan tersebut diarahkan agar keterampilan teknis peserta sesuai dengan kebutuhan industri global. Sementara sertifikasi menjadi bentuk pengakuan terhadap kompetensi yang dimiliki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....