Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, Kemenhut Fokus Enam Provinsi Rawan

  • 25 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kehutanan mencatat kebakaran hutan dan lahan mencapai 202 ribu hektare dari Januari hingga Juli 2026.
  • Penanganan kebakaran hutan dan lahan telah memasuki hari ke-53 di sejumlah wilayah yang rawan terhadap bencana ini.
  • Enam provinsi ditetapkan sebagai wilayah rawan karhutla yang membutuhkan penanganan terpadu yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 202 ribu hektare dari Januari hingga Juli 2026. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Thomas Nifinluri menyebut penanganan karhutla kini memasuki hari ke-53 di sejumlah wilayah rawan.

Ia mengungkapkan terdapat enam provinsi yang menjadi wilayah rawan karhutla dan membutuhkan penanganan terpadu. Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

“Yang paling membutuhkan respon cepat pertama adalah Kalimantan Barat, kemudian Kalimantan Tengah. Sepertinya ada eskalasi juga di Sumatra Selatan, dan saat ini di Riau,” ucap Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan saat berdialog dengan Pro3 RRI Selasa, 25 Agustus 2026.

Thomas merincikan di Kalimantan Barat saat ini memiliki 17 titik api, sedangkan Kalimantan Tengah mencapai sekitar 16 titik. Sementara Riau tercatat memiliki tujuh titik api dan Sumatra Selatan memiliki 11 titik api.

Ia menyebut titik-titik tersebut menjadi konsentrasi tim terpadu untuk melakukan pemadaman di wilayah terdampak kebakaran. Menurut Thomas, kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena sebagian wilayah memiliki kawasan hidrologis gambut luas.

“Jadi secara nasional luas kawasan hidrologis gambut itu adalah 13,4 juta hektar. Itu sebagian besar di enam provinsi ini,” katanya.

Thomas menjelaskan kondisi tersebut turut dipengaruhi El Nino yang datang lebih awal, berlangsung lebih lama, serta lebih panas dan kering. “Jadi berdasarkan prediksi BMKG, indeks ENSO El Nino itu sudah mencapai 2,15, itu sebenarnya sudah memasuki kategori kuat,” ujar Thomas.

Ia menambahkan kondisi tersebut membuat kelembapan rendah dan tinggi muka air tanah di kawasan gambut semakin menurun. Menurut Thomas, biomasa atau bahan bakaran semakin banyak sehingga kawasan tersebut sangat rentan terbakar.

Selain faktor cuaca, Thomas menyebut kelalaian manusia dan faktor kesengajaan turut memicu terjadinya kebakaran. “Sekali terjadi titik api kebakaran kecil ini, itu dapat meluas dengan cepat karena adanya juga bantuan dari angin dan udara kering,” ucapnya.

Thomas menegaskan penanganan karhutla membutuhkan respons cepat karena kondisi cuaca kering dapat mempercepat perluasan api. Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan dampaknya terhadap lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....