Bapanas Kembangkan Edukasi Gizi dan Antiboros Pangan

  • 25 Agt 2026 08:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bapanas mendorong edukasi pangan dan gizi dilakukan sejak anak berada di lingkungan sekolah
  • Program GENIUS menggabungkan pemenuhan gizi, edukasi pangan, dan pembiasaan Stop Boros Pangan
  • Program Nutrition Goes to School atau NGTS mendorong terbentuknya generasi yang aktif, sehat, dan cerdas
  • NGTS telah melibatkan lebih dari 3.500 pendidik dan kepala sekolah serta memberi manfaat kepada lebih dari 2.400 sekolah dan madrasah
  • Bapanas bersama kementerian dan lembaga terkait memperkuat kolaborasi pendidikan gizi melalui tiga pilar NGTS: Active, Well Nourish, dan Smart of Me

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat edukasi pangan dan gizi di lingkungan sekolah. Edukasi tersebut tidak hanya mengenalkan makanan bergizi, tetapi juga membentuk kebiasaan mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan dan tidak menyisakannya.

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas Nita Yulianis mengatakan pembiasaan sejak usia sekolah penting untuk membangun perilaku pangan yang baik. Anak perlu memahami manfaat makanan bergizi sekaligus belajar menghargai pangan yang tersedia.

Menurut Nita, pengalaman tersebut diperoleh melalui kolaborasi Bapanas bersama Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) dalam Gerakan Edukasi dan Pemberian Pangan Bergizi untuk Siswa (GENIUS) pada 2023-2024. Program tersebut memadukan pemenuhan gizi dengan edukasi pangan dan gizi serta gerakan Stop Boros Pangan.

“Melalui GENIUS, kami melihat bahwa edukasi pangan dan gizi dapat berjalan bersama dengan pembiasaan yang sederhana, termasuk mengajak anak menghabiskan makanan yang diberikan,” ujar Nita saat ditemui di sela-sela kegiatan, Minggu 23 Agustus 2026. Menurutnya, pembiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun perilaku pangan yang baik sejak usia sekolah.

Dalam pelaksanaan GENIUS, anak diajak mengenal makanan yang baik bagi tubuh sekaligus membiasakan diri mengambil dan mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan. Kebiasaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi pangan yang terbuang di lingkungan sekolah.

Nita mengatakan kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang sehat sekaligus bijak terhadap pangan. Menurutnya, setiap pangan yang tersedia memiliki nilai sehingga perlu dimanfaatkan dengan baik.

Pengalaman tersebut sejalan dengan program Nutrition Goes to School (NGTS) yang dikembangkan SEAMEO RECFON. Program tersebut telah berjalan selama satu dekade dengan pendekatan berbasis sekolah untuk memperkuat pendidikan gizi.

Direktur SEAMEO RECFON Rini Sekartini mengatakan NGTS memiliki cita-cita membangun Generasi AWESOME, yakni Active, Well Nourish, and Smart of Me. Menurutnya, pembentukan generasi tersebut membutuhkan intervensi gizi yang disertai edukasi, dukungan lingkungan sekolah, kapasitas guru, serta kepemimpinan dan kebijakan sekolah.

“Untuk mewujudkannya, kegiatan tidak cukup hanya dengan memberikan intervensi, tetapi harus diiringi edukasi gizi, lingkungan sekolah yang mendukung, guru dengan kapasitas, sekolah dengan kepemimpinan dan kebijakan. Perubahan ini membutuhkan kerja sama,” kata Rini.

Selama pelaksanaannya, NGTS telah diikuti lebih dari 3.500 pendidik dan kepala sekolah. Program tersebut juga telah memberikan manfaat kepada lebih dari 2.400 sekolah dan madrasah.

Sebanyak 279 sekolah dan madrasah telah mendapatkan bimbingan teknis. Sementara itu, 41 sekolah telah mencapai tahap sekolah NGTS mandiri di 11 kabupaten/kota dengan pendampingan dari 13 mitra.

Penguatan pendidikan gizi di sekolah juga mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin. Menurutnya, pendidikan gizi dan penyediaan makanan bergizi di sekolah dapat menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan hidup sehat anak.

“Pendidikan gizi dan penyediaan makanan bergizi di sekolah menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat,” ujarnya. Ia menilai praktik baik yang berkembang melalui NGTS dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan dikembangkan di sekolah.

Pengalaman tersebut juga dapat dibagikan antarsekolah di Indonesia maupun di tingkat regional. Pertukaran pengalaman membuka ruang bagi negara-negara di kawasan untuk saling belajar dan mengembangkan solusi sesuai dengan tantangan gizi anak di masing-masing wilayah.

Kolaborasi penguatan edukasi gizi tersebut ditandai dengan pemasangan simbolis tiga pilar NGTS, yakni Active, Well Nourish, dan Smart of Me, oleh Bapanas bersama kementerian dan lembaga terkait. Kegiatan tersebut berlangsung dalam perayaan 10 tahun Program Nutrition Goes to School di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Minggu 23 Agustus 2026.

Melalui program tersebut, edukasi gizi di sekolah tidak hanya diarahkan pada pemahaman mengenai makanan bergizi. Pembiasaan mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan juga menjadi bagian dari upaya membangun perilaku pangan yang lebih bijak sejak usia sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....