Menteri Bahlil Sebut Pemanfaatan Panas Bumi Masih Rendah
- 24 Agt 2026 22:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Cadangan panas bumi (Geothermal) Indonesia nomor satu di dunia
- Pemanfaatan geothermal di Tanah Air masih rendah
- Pemerintah akan mempermudah regulasi terkait pengembangan geothermal
RRI.CO.ID, Jakarta-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia memiliki panas bumi terbesar di dunia namun secara pemanfaatan masih rendah. Oleh sebab itu, Bahlil akan mempermudah perizinan dan memberikan insentif untuk kerja sama antara regulator dan pelaku usaha.
“Tantangan terbesar kita ada pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Kita punya cadangan nomor satu dunia, tapi utilisasi masih nomor dua," kata Bahlil.
"Pemerintah siap mempermudah perizinan. Dan memberikan insentif konkret agar kerja sama antara regulator dan pelaku usaha berjalan selaras,” kata Menteri Bahlil dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026.
Pemerintah juga akan mendorong optimalisasi pemanfaatan panas bumi (geothermal) untuk keperluan non kelistrikan (Beyond electricity). Pemanfaatan tersebut untuk mencapai target bauran energi energi nasional 15 persen.
“Kita juga mendorong optimalisasi potensi beyond electricity, mulai dari pengeringan hasil tani seperti kopi hingga kebutuhan industri Petrokimia. Guna mengunci target bauran energi nasional minimal 15% pada 2050 mendatang,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA/API), Julfi Hadi, menegaskan momentum satu abad panas bumi harus menjadi batu loncatan menuju kemandirian energi. Selain itu juga menjadi momentum untuk target kapasitas 30 GW.
Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, namun sekitar 88% cadangannya belum termanfaatkan. Ia menjelaskan insergi antara pemerintah dengan pelaku usaha menjadi kunci agar target kapasitas 30 GW terealisasi.
“Momentum 100 tahun ini harus menjadi landasan pacu untuk mempercepat eksekusi proyek di lapangan. Sebagai sumber baseload hijau yang andal 24/7, akselerasi panas bumi bukan hanya mengunci swasembada energi,” ujar Julfi.
“Akselerasi panas bumi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi hingga 8% melalui pengembangan ekosistem manufaktur dan rantai pasok lokal. Sinergi antara pemerintah, pengembang IPP, dan kepastian izin WKP baru adalah kunci merealisasikan target 30 GW,ˮ kata Julfi menegaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....