Gempa Flores NTT Belum Berakhir, Sebanyak 5.688 Susulan Tercatat BMKG

  • 23 Agt 2026 09:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hingga Minggu, 23 Agustus 2025, pukul 05.00 WIB, jumlah gempa susulan yang terpantau telah mencapai 5.688 kejadian.
  • Dari 5.688 gempa susulan tersebut, kekuatan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan gempa susulan magnitudo terkecil 1,1.
  • Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG mencatat, ribuan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT. Hingga Minggu, 23 Agustus 2025, pukul 05.00 WIB, jumlah gempa susulan yang terpantau telah mencapai 5.688 kejadian.

Dari 5.688 gempa susulan tersebut, kekuatan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan gempa susulan magnitudo terkecil 1,1. BMKG juga mencatat, 32 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5, sementara 130 kejadian lainnya dirasakan oleh masyarakat.

Meski jumlah aktivitas seismik mulai menunjukkan kecenderungan menurun, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Berdasarkan pola peluruhan gempa, rangkaian gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan, fase awal rangkaian gempa susulan masih menunjukkan pola yang cukup kompleks. Kondisi tersebut, membuat aktivitas gempa belum sepenuhnya menunjukkan pola peluruhan yang sederhana.

“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” kata Wijayanto dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Minggu, 23 Agustus 2026. Ia menjelaskan, jumlah gempa dalam 24 jam mencapai 704 kejadian hari pertama dan meningkat menjadi 746 kejadian pada hari kedua.

Aktivitas gempa di NTT, kemudian berada di kisaran 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima. Namun pada hari keenam, jumlahnya kembali meningkat hingga mencapai 802 kejadian.

Sejumlah gempa susulan, BMKG mengatakan, juga menghasilkan guncangan yang cukup kuat dan dirasakan masyarakat di wilayah terdampak. BMKG mencatat, gempa berkekuatan M5,6 pada 19 Agustus, kemudian dua gempa M5,8 pada 20 Agustus yang menimbulkan guncangan kuat.

Kondisi tersebut, menyebabkan kerusakan tambahan pada sejumlah bangunan dan infrastruktur di NTT. Hasil pemantauan BMKG menunjukkan aktivitas gempa susulan tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah.

Sejumlah kejadian justru terkonsentrasi dalam beberapa klaster, terutama sekitar sumber gempa utama di utara Nagekeo mengikuti jalur Flores Back-Arc Thrust. Pergerakan aktivitas seismik tersebut juga berubah dari hari ke hari.

Di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung, dampak kerusakan akibat gempa utama juga menjadi perhatian pemerintah. BNPB mencatat, sebanyak 53.971 rumah mengalami kerusakan di tujuh kabupaten terdampak, dengan pendataan dan verifikasi kerusakan masih terus dilakukan.

Dari total rumah terdampak tersebut, sebanyak 19.006 unit dikategorikan rusak berat, 11.777 rumah mengalami rusak sedang. Sedangkan, 23.188 rumah masuk kategori rusak ringan.

Data tersebut, menjadi bagian dari proses penanganan dan pemulihan pascabencana yang dilakukan pemerintah di wilayah terdampak.

BNPB telah mengirimkan tim ke tujuh kabupaten untuk melakukan verifikasi dan validasi terhadap data kerusakan.

Langkah ini diperlukan agar penanganan tahap pemulihan dapat dilakukan berdasarkan kondisi riil di lapangan. Sementara itu, BMKG terus mengoperasikan sistem pemantauan gempa secara real-time selama 24 jam.

Setiap aktivitas dianalisis berdasarkan jumlah kejadian, magnitudo, lokasi sumber, arah pergerakan aktivitas hingga karakteristik sumber gempa. Semua itu, untuk memberikan informasi terbaru kepada masyarakat dan pemerintah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....