Dukung Target Presiden, PLN Kembangkan Ekosistem Energi Hijau

  • 22 Agt 2026 15:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ekosistem ketenagalistrikan nasional terus menyusun langkah strategis demi mengejar realisasi energi hijau yang efisien dan tepat sasaran. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPR RI, Jumat, 14 Agustus 2026, mengenai target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt dan kemandirian energi guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

General Manager Puslitbang PLN (Persero) Mochammad Soleh, menyampaikan keberhasilannya meluncurkan percontohan ekosistem energi hijau 100 persen melalui Green Ecosystem Technopark di Pulau Rengit, Kepulauan Bangka Belitung. Pilot project ini mengintegrasikan teknologi hibrida antara PLTS, Battery Energy Storage System (BESS), hingga penggunaan energi hidrogen untuk mengalirkan listrik 24 jam di Pulau Rengit.

Mochamad Soleh menyebutkan pemanfaatan energi hidrogen pada sistem hibrida di Pulau Rengit bertujuan mengatasi kelemahan BESS yang sifatnya short-term storage. Langkah ini terbukti efektif menggantikan PLTD berbahan solar, serta secara nyata meningkatkan kesejahteraan warga lokal.

"Dulu waktu pakai mesin diesel, listrik hanya nyala 12 jam dari jam 6 sore sampai 6 pagi karena biaya solarnya mahal sekali, sekitar Rp18.000 per kWh. Sekarang dengan hibrida PV, BESS, dan hidrogen, listrik nyala penuh 24 jam dengan biaya lebih murah. Kegiatan tempat ibadah berjalan lancar, dan taraf hidup warga otomatis naik" kata Mochamad Soleh saat diwawancara Selasa lalu.

Kepala Desa Pegantungan, Pulau Rengit, Ahid mengutarakan rasa syukurnya terhadap pembangunan PLTS di desa yang mayoritas dihuni oleh para nelayan itu pada Sabtu, hari ini.

“Wah, sangat… baik sih. Manfaatnya pertama yang semula mereka harus mengandalkan beli esnya dari darat, sekarang mereka udah punya freezer sendiri. Biasanya dulu kalau masih pakai mesin genset kan dari jam 6 sore. Ya kan? Nah, kalau sekarang kan enggak, enggak ada ceritanya lagi. Malahan mesin diesel mereka udah enggak digunakan lagi sekarang,” kata Ahid.

Di sisi lain, keandalan sistem kelistrikan pasokan utama nasional—khususnya wilayah vital seperti ibu kota Jakarta—juga terus dijaga ketat agar tidak terganggu oleh fluktuasi harga minyak dunia.

General Manager PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Priok, Buyung Arianto menyebutkan mayoritas pembangkit listrik besar penopang pusat pemerintahan dan ekonomi mengandalkan pasokan gas domestik. BBM hanya difungsikan sebagai opsi mitigasi darurat jika terjadi gangguan pasokan energi pembangkit lain.

"Untuk subsistem Priok-Bekasi, kami Jakarta Utara, Pusat, Timur, dan Bekasi. kurang lebih sekitar 65 persen area ibu kota listriknya dipasok dari PLTGU Priok. Untuk gas LNG kita tidak perlu impor, kita disuplai murni lokal dari Papua (Tangguh), kemudian ada juga dari Sumatra, Lampung. BBM itu sebagai backup ketika gas atau batu bara pasokannya terganggu. Walaupun BBM secara rupiah lebih mahal dan berpengaruh saat dolar naik, untuk pembangkit besar PLTGU kenaikan biaya produksi tidak terlalu signifikan dibanding PLTD solar." ujarnya.

Buyung Arianto juga menyampaikan penerapan manajemen aset jangka panjang hingga enam tahun ke depan telah direncanakan guna memitigasi gangguan mendadak dan menjamin keandalan pasokan listrik secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....