RRI Dorong Jurnalis Adaptif di Tengah Tantangan Era Disrupsi Digital
- 19 Agt 2026 20:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- LPP RRI menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan RRI (UKWR) di Jakarta pada 19 Agustus 2026 dengan melibatkan Korwilnus XIII Jakarta dan Pusat Pengembangan Kompetensi RRI.
- Direktur Utama LPP RRI, Dr. I. Hendrasmo menekankan bahwa media konvensional menghadapi tantangan signifikan akibat perkembangan teknologi dan perubahan lanskap media global.
- Jurnalis RRI perlu terus memperbarui dan meningkatkan kompetensi mereka untuk mampu beradaptasi dengan dinamika industri media yang terus berkembang.
RRI.CO.ID, Jakarta - LPP RRI menggelar Uji Kompetensi Wartawan RRI (UKWR) di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan Korwilnus XIII Jakarta bersama Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) RRI.
Direktur Utama LPP RRI, Dr. I. Hendrasmo menilai media konvensional menghadapi tantangan seiring perkembangan teknologi dan perubahan lanskap media. Kondisi tersebut mendorong jurnalis RRI terus memperbarui kompetensi agar mampu beradaptasi.
“Kita akan terus mengalami disrupsi yang tidak akan berhenti, karena yang mendorong disrupsi itu teknologi, terutama di komunikasi. Disrupsi itu fluktuatif, kita tidak mengerti kapan selesai, akan seperti apa, dan kita tidak bisa mengantisipasi, tetapi bisa menyiasati apa dampaknya,” kata Hendrasmo, dalam sambutannya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Perubahan lanskap media juga terlihat dari perpindahan audiens media mainstream ke berbagai platform digital. Hendrasmo menilai RRI perlu mengetahui perpindahan audiens tersebut agar tetap relevan bagi masyarakat.
RRI juga menghadapi persaingan untuk mendapatkan perhatian audiens di tengah maraknya konten instan. Menurut Hendrasmo, persaingan tersebut tidak boleh membuat media mengabaikan kualitas jurnalistik.
Hendrasmo mengatakan RRI harus tetap menjadi media yang dipercaya, relevan, dan berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, karya jurnalistik tidak cukup hanya diproduksi, tetapi juga harus memiliki nilai dan memberikan dampak.
Tantangan lain adalah meningkatnya hoaks, disinformasi, dan misinformasi di tengah derasnya arus informasi digital. Kondisi tersebut menuntut RRI memperkuat kemampuan verifikasi agar tetap menjadi rujukan informasi masyarakat.
“Tantangan utama yang dihadapi oleh media, baik media global, media nasional, oleh RRI, adalah hoax yang semakin banyak. Inilah yang akan kita terapi dengan menjalankan uji kompetensi,” ujar Hendrasmo.
“Kita akan memperkuat kemampuan editorial, kemampuan merekonstruksi peristiwa dalam jurnalisme. Dan memperkuat kemampuan etika,” ucap Hendrasmo, menambahkan.
Hendrasmo juga menilai karya jurnalistik harus tetap menarik agar mampu menjangkau dan mendapatkan perhatian audiens. Menurutnya, konten dengan informasi penting akan sulit berdampak jika gagal menarik perhatian publik.
“Kita harus membuat karya yang menarik karena tidak ada gunanya membuat konten, tetapi tidak berhasil menggaet atensi publik. Nah inilah, saya mohon para penguji untuk mengajak peserta untuk menuju ke arah tersebut,” ujar Hendrasmo.
Menurutnya, jurnalis harus mampu memilih fakta yang penting, terbaru, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kemampuan tersebut perlu diterapkan dalam pekerjaan jurnalistik agar karya RRI tetap berkualitas dan menarik.
Hendrasmo berharap UKWR menjadi pemantik bagi jurnalis untuk terus meningkatkan kemampuan. Ia menilai kompetensi, profesionalisme, standar etik, dan estetika harus berjalan beriringan dalam menghasilkan karya jurnalistik RRI. (Shafira Nursyifa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....