BMKG Ungkap Kekeringan Meluas saat Puncak Kemarau 2026
- 19 Agt 2026 05:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fenomena El Niño meningkatkan ancaman kekeringan ekstrem secara meluas di beberapa wilayah di Tanah Air.
- Untuk daerah yang berkategori sangat panjang, antara 30 hingga 60 hari itu mayoritas ada di Nusa Tenggara,
- Kekeringan meteorologis telah berkembang menjadi kekeringan hidrologis, terutama pada wilayah selatan khatulistiwa yang mengalami defisit hujan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena el Nino meningkatkan ancaman kekeringan ekstrem secara meluas di beberapa wilayah di Tanah Air. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menguraikan, wilayah Indonesia yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan selama puncak kemarau.
“Untuk daerah yang berkategori sangat panjang, antara 30 hingga 60 hari itu mayoritas ada di Nusa Tenggara,” kata Ardhasena Sopaheluwakan dalam dialog bersama PRO 3 RRI, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ardhasena menekankan kondisi tersebut dipengaruhi puncak kemarau serta fenomena El Nino yang menekan peluang pembentukan hujan di daerah. Selain itu, menurut Ardhasena, berkembangnya fenomena IOD positif di Samudra Hindia juga berkontribusi mengurangi curah hujan di Indonesia.
“Lalu kemudian hadirnya El Nino belakangan itu ikut memperkuat efek kering dari musim kemarau yang sudah terjadi,” ujarnya.
Ardhasena mengingatkan kekeringan meteorologis telah berkembang menjadi kekeringan hidrologis, terutama wilayah selatan khatulistiwa yang mengalami defisit hujan. Kondisi ini memangkas pasokan uap air di udara, memicu kekeringan atmosfer berkepanjangan hingga beberapa dasarian mendatang.
“Masyarakat yang bergantung dengan sumber air permukaan akan mengalami tantangan karena sumber air juga bergantung dari hujan,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat mitigasi melalui koordinasi, bantuan air bersih, penghematan air, serta penyampaian informasi iklim. Saat ini, menurutnya, upayanya bukan lagi mewaspadai tetapi upaya untuk mitigasi dan survival dimana masyarakat bisa bertahan dan efisien.
Ardhasena juga mengingatkan kekeringan meningkatkan risiko kebakaran lahan, sementara sektor pertanian perlu menyesuaikan pola tanam menghadapi kondisi kering. Dia mengatakan, petani harus menyesuaikan pola tanamnya dengan tidak menanam sawah, tidak menanam padi, tapi menanam tanaman palawiga.
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Demikian prakiraan cuaca Indonesia selama sepekan 14–20 Agustus 2026 berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Namun perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas lebat. Hal itu kemungkinan terjadi di Sumatera Barat dan Papua Pegunungan.
Tak lupa, waspada angin kencang diperkirakan terjadi di Aceh, Sulawesi Utara, Gorontalo. Daerah lain Zulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....