Presiden Targetkan Bangun 30 hingga 50 Pabrik Etanol
- 18 Jul 2026 07:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto menetapkan target pembangunan 30-50 pabrik etanol
- Indonesia telah mencapai kapabilitas menghasilkan bahan bakar bioetanol berkualitas tinggi dengan standar E10, yang merupakan campuran bensin dengan 10 persen etanol.
- Presiden Prabowo Subianto memberi tantangan para pembantunya untuk hasilkan BBM dengan etanol 100 persen.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan puluhan pabrik etanol untuk mendukung pengembangan bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol atau E10. Menurutnya, Indonesia kini mulai mampu memproduksi bioetanol sebagai bahan baku pencampur bensin.
"Sudah mulai kita mampu menuju E10, etanol 10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10 persen etanol," kata Presiden Prabowo saat memberikan sambutan pada peresmian panen raya di Malang, Jawa Timur, Jumat 17 Juli 2026.
"Butuh pabrik, saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik etanol. Kalau perlu sampai 50 pabrik."
Presiden mengatakan saat ini Indonesia baru memiliki satu pabrik etanol. Karena itu, pemerintah berkomitmen memperbanyak fasilitas produksi guna mendukung pengembangan BBM berbasis bioetanol.
Presiden juga menantang jajaran pemerintah untuk mengembangkan BBM berbahan bakar etanol murni atau E100. Ia menilai Indonesia memiliki potensi untuk mengikuti negara lain yang telah lebih dahulu mengembangkan bahan bakar berbasis etanol.
"Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. India sudah E20, Brasil sudah E100, masa Indonesia tidak bisa? Indonesia bisa kan?, bisa?, bisa? bisa," tanya Presiden.
Presiden Prabowo juga mengatakan Indonesia berhasil mengembangkan BBM solar dengan bahan utama dari kelapa sawit atau B50. Peluncuran solar B50 di Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
"Sebelumnya kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang hasilkan solar dari kelapa sawit," ujar Presiden.
Kepala Negara mengatakan keberhasilan Indonesia memproduksi BBM solar B50, maka Indonesia memutuskan tidak mengimpor solar. Dengan demikian, petani kelapa sawit diuntungkan karena permintaan sawit meningkat untuk produksi B50.
"Jadi dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia," katanya.
Presiden memaparkan capaian lain pemerintah dalam rangka menuju swasembada energi yakni dengan mengaktifkan kembali proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela di Maluku. Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (Groundbreaking) proyek strategis nasional (PSN) LNG Abadi Masela.
"Kita kemarin berhasil mulai produksi, mulai pembangunan blok gas salah satu yang terbesar di kawasan kita. Setelah 28 tahun mangkrak, kita hidupkan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....