Hadapi Tantangan Global, Airlangga: Pemerintah Terus Perkuat Fondasi Ekonomi

  • 11 Jul 2026 06:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penguatan supply chain, kedaulatan pangan, dan energi di tengah ketidakpastian global dan konflik geopolitik.
  • Program biodiesel B50 memungkinkan Indonesia tidak lagi mengimpor solar, menghemat devisa Rp177 triliun, dan mengurangi emisi 44 juta ton CO₂ ekuivalen.
  • Pemerintah mengembangkan PLTS berkapasitas 100 gigawatt dan mempercepat industri semikonduktor nasional melalui kerjasama dengan perusahaan desain chip global Arm untuk melatih 15.000 teknisi dan engineer.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, penguatan dilakukan melalui rantai pasok, kedaulatan pangan, dan energi menghadapi konflik geopolitik serta perkembangan teknologi.

"Jadi, di tengah ketidakpastian, terutama akibat konflik geopolitik yang belum selesai, ditambah disrupsi teknologi seperti artificial intelligence. Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi, terutama terkait dengan supply chain," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.

Airlangga mengatakan implementasi program biodiesel B50 menunjukkan Indonesia memiliki kekuatan di sektor energi. Menurutnya, B50 membuat Indonesia tidak mengimpor solar, menghemat devisa Rp177 triliun, serta mengurangi emisi 44 juta ton CO₂ ekuivalen.

"Kemarin Bapak Presiden meluncurkan B-50. Program itu menunjukkan Indonesia memiliki kekuatan sendiri karena tidak lagi mengimpor solar,” kata Airlangga.

Selain menjalankan program B50, pemerintah juga mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Pengembangan tersebut didukung industri hilir baterai kendaraan listrik dan battery energy storage system.

Airlangga mengatakan pemerintah juga mempercepat pengembangan industri semikonduktor nasional dengan menggandeng perusahaan desain cip global Arm. Menurutnya, kerja sama ditujukan melatih sekitar 15.000 teknisi dan engineer guna mendukung pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia.

"Dan Indonesia sendiri untuk pengembangan semikonduktor sudah mengajak mitra yang namanya Arm. Arm itu menguasai hampir lebih dari 90 persen daripada pengembangan chip design," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....