Kementerian ESDM Akselerasi EBT Lewat Proyek Strategis Nasional

  • 28 Nov 2024 01:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong percepatan implementasi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Salah satunya dengan mengerjakan sejumlah proyek strategis nasional.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengisahkan pengalaman PT PLN (Persero) yang bekerja sama dengan perusahaan energi asal Uni Emirat Arab (UEA), Masdar, terkait peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata hingga tiga kali lipat. Atau, mencapai 500 Megawatt Alternating Current (MWAc).

Dari peningkatan kapasitas PLTS Terapung Cirata tersebut, kata dia, terindikasi akan terjadi transisi energi bersih yang masif. Yuliot menyebut, di antaranya sejumlah pengurangan emisi CO2 sebesar 214.000 ton per tahun, produksi lebih dari 200 juta KWh energi hijau, dan kemampuan melistriki lebih dari 50.000 rumah.

"Kemudian dari sisi investasi, kolaborasi yang dilakukan oleh PT PLN dan Masdar ini akan menciptakan lapangan kerja. Yakni, lapangan kerja sebanyak 1.400 orang,” kata Yuliot dalam keterangannya, Rabu (27/11/2024).

Wamen ESDM berharap proyek ini bisa menjadi salah satu contoh implementasi EBT yang bisa ditiru oleh kegiatan di tempat lain. "Dengan begitu, ketersediaan untuk energi bersih secara merata secara nasional itu bisa tercapai," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga telah mengerjakan beberapa proyek terkait program dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan. Atara lain co-firing untuk PLTU dengan Biomass. "Itu merupakan bagian program konversi pemakaian BBM untuk program gasifikasi dan melakukan konversi dengan pemakaian BBM dengan gas," kata dia.

Yuliot juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan roadmap hilirisasi untuk mendorong terciptanya ekosistem kendaran listrik. Salah satunya hilirisasi terhadap nilai tambah produk nikel.

"Untuk tahun 2017 yang lalu, ekspor nikel itu sekitar USD3,3 miliar, dan ternyata ini peningkatan nilai tambah dan nilai ekspor mencapai Rp33,5 miliar," ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah telah mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam memaksimalkan pemanfaatan EBT. "Kita memerlukan transmisi lebih dari 50.000 kilometer sirkuit, termasuk transmisi tegangan ekstra tinggi sekitar 500 kilowatt sepanjang lebih dari 10.000 kilometer sirkuit," kata Yuliot.

Ia mengungkapkan, untuk pembangunan transmisi tersebut, jumlah investasi yang dibutuhkan mencapai Rp400 triliun. Jumlah tersebut merupakan potensi investasi yang bisa dikembangkan dengan melibatkan berbagai pihak.

"Bagaimana antara potensi dengan pemanfaatan itu gapnya tidak terlalu jauh, sehingga akan terjadi efisiensi dan sebagai komitmen kita untuk mengurangi emisi. Terutama, Net Zero Emission pada tahun 2060," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, transisi energi bersih pada masa sekarang ini bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Sebab, harga energi baru terbarukan semakin terjangkau.

“Kalau dulu kita berbicara energi murah itu kotor, sedangkan energi bersih mahal. Ternyata, sekarang sudah bergeser, kalau kita berbicara energi bersih, (harganya) murah,” kata Darmawan.

Untuk itu, ia menyambut baik upaya pemerintah bersama-sama dengan sejumlah pemangku kepentingan, seperti asosiasi dan para pelaku industri, untuk berkolaborasi menuju transisi energi bersih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....