Tanggap Erupsi Gunung Lewotobi, Kemendikdasmen Siapkan Pembelajaran Darurat
- 13 Nov 2024 15:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen memastikan anak-anak yang terdampak bencana tetap mendapatkan akses pendidikan. Terlebih anak-anak yang saat ini terkena dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
“Kemendikdasmen berkomitmen memastikan anak-anak yang terdampak bencana tetap mendapatkan akses pendidikan, walaupun dalam situasi darurat. Kami berupaya menghadirkan pembelajaran yang aman melalui fasilitas darurat serta dukungan psikososial,” kata Sekretaris Jenderal, Suharti dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Rabu (13/11/2024).
Kemendikdasmen, lanjut dia, akan mengoordinasikan layanan pendidikan darurat di beberapa titik pengungsian bersama pemerintah daerah. Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Flores Timur telah menyelenggarakan pembelajaran darurat di 8 lokasi pengungsian sejak 9 November 2024.
“Kami akan melakukan pendampingan penyelenggaraan pendidikan dalam situasi darurat ini melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi NTT. Kemudian, Balai Guru Penggerak Provinsi NTT dan Seknas Satuan Pendidikan Aman Bencana,” katanya, menjelaskan.
Sementara ada tiga tenda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial yang saat ini digunakan untuk kelas darurat. Kemendikdasmen juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk rehabilitasi sarana pendidikan yang rusak.
Sejumlah organisasi mitra pun, lanjut Suharti, juga turut serta dalam menyediakan layanan dukungan psikososial, distribusi perlengkapan sekolah. Bahkan, mendukung upaya pendataan dan respon pendidikan dalam situasi darurat.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah, mitra organisasi kemanusiaan, dan pihak terkait untuk memberikan dukungan maksimal. Utamanya, dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Adapun bantuan untuk dukungan pendidikan yang telah disiapkan Kemendikdasmen meliputi:
1. Penambahan tenda ruang kelas darurat dan fasilitas belajar bagi siswa sebanyak 15 unit,
2. Paket perlengkapan belajar sebanyak 1.570 paket,
3. Paket masker dan family kit,
4. Buku bacaan non teks pelajaran sebanyak 3.464 eksemplar,
5. Bantuan dana.
Untuk diketahui, erupsi ini telah menyebabkan gangguan pada 66 satuan pendidikan di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura. Di mana tercatat sebanyak 458 guru dan 5.383 siswa yang terdampak langsung.
Selain itu, sebanyak 17 dari 66 satuan pendidikan tersebut terlaporkan mengalami kerusakan pada gedung dan sarana pendidikan lainnya. Saat ini pendataan kerusakan sarana dan prasarana satuan pendidikan masih berlangsung.
Lebih lanjut, 11 satuan pendidikan di Kecamatan Titehena digunakan sebagai lokasi pengungsian bagi masyarakat terdampak. Hal ini mengakibatkan terganggunya layanan pendidikan di sekolah tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....