Pecinan Madiun Ada Sejak Tahun 1740
- 21 Jan 2025 10:50 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Pecinan menjadi sebuah kawasan yang terdapat hampir di tiap daerah di Indonesia, dan bahkan di berbagai negara. Di Indonesia, pecinan atau kampung Cina merupakan Wijkenstelsel, yaitu aturan yang menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda. Dengan kata lain pecinan adalah kawasan di mana orang Tionghoa dikumpulkan di suatu wilayah karena kebijakan pemerintah kolonial.
Wijkenstelsel ini juga diberlakukan di Madiun pada masa pemerintahan kolonial. Menurut Septian Dwita Karisma, sejarawan HvM (Historia van Madioen), pecinan di Madiun bahkan masih eksis hingga saat ini dengan beberapa bangunannya menjadi bagian cagar budaya.
"Orang Tionghoa dikumpulkan di suatu wilayah karena kebijakan pemerintah kolonial, wijkenstelsel. 1810 orang Tionghoa membantu bupati Madiun memberontak pemerintahan kolonial. Karena itulah pemerintah kolonial menerapkan itu, membuat pecinan, agar mudah mengawasi orang-orang Tionghoa itu", ungkapnya saat acara obrolan Komunitas PRO 2 RRI Madiun.
Kampung pecinan sudah ada sejak sekitar tahun 1740. Pada masa itu orang dari Tiongkok Selatan bermigrasi ke Hindia Belanda. Pada paruh pertama 1700an Hindia Belanda sudh penuh dengan orang-orang dari Tionghoa.
"Kedatangan mereka tidak dibarengi dengan pekerjaan yang memadai. Karena mereka banyak yang tidak memiliki pekerjaan, pada akhirnya ribut sendiri. Peristiwa itu dikenal dengan geger pecinan pada 1740. Pasca kejadian itu, orang-orang Tionghoa dikelompokkan di satu tempat agar lebih mudah diawasi oleh bangsa kolonial", jelas Ilham Putra, sejarawan HvM.
Terdapat dua golongan etnis Tionghoa. Yang pertama adalah Tionghoa peranakan, yaitu orang Tionghoa yang sudah berasimilasi, menikah dengan pribumi dan beranak pinak, serta beratus tahun bermukim di nusantara. Sementara golongan berikutnya disebut Totok, yaitu golongan yang memiliki garis keturunan murni Tionghoa, baru datang dari dataran Cina atau generasi yang lahir di sana kemudian merantau ke nusantara.
"Kampung Pecinan sebenarnya diperuntukkan bagi golongan totok", sambung Ilham.
Pecinan Madiun meliputi kawasan yang membentang dari Jl. Kol. Marhadi hingga daerah pasar Sleko. Dahulu, pecinan dikenal sebagai kawasan jalan kembar, yang sekarang menjadi Jl. HOS Cokroaminoto dan Jl. H. Agus Salim.
"Di Madiun didirikan kampung pecinan karena ada kegiatan perekonomian di sana. Mereka dipimpin oleh Letnan Tionghoa. Pasar kawak adalah tempat interaksi orang Eropa, Tionghoa dan pribumi. Menjadi tempat dengan aktifitas perekonomian yang tinggi.
Sebelum menjadi Jl. HOS Cokroaminoto disebut Peking Straat, Jl. Bogowonto dulunya bernama Macau Straat. Hal tersebut menjadi bukti adanya pengaruh Tionghoa", sambung Septian.
Beberapa bangunan khas Tionghoa di pecinan Madiun menjadi cagar budaya. Selain bangunan yang masih berdiri kokoh di daerah pasar Kawak dan Jl. Barito, bangunan yang merupakan rumah bekas kapiten Cina Njoo Swie Lian di Jl. Kol. Marhadi menjadi ikon yang paling terkenal.
"Bangunan yang menjadi cagar budaya adalah rumah kapiten Cina Njoo Swie Lian, seorang pedagang kayu di Jl. Kol. Marhadi. Sekarang dijadikan coffee shop. Kemudian, SMPN 2 Madiun dan SMPN 6 Madiun merupakan bekas sekolah Cina", sebut Septian.
Keberadaan kampung pecinan yang masih eksis menjadi bukti adaptasi dan pembauran masyarakat hingga saat ini. Bahkan, saat perayaan imlek, beberapa kegiatan dipusatkan di Jl. Barito dan kampung pecinan, seperti seni pertunjukan, festival kuliner, bazar dan sebagainya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....