Seniman Asal Belgia, Mengubah Bola Tenis Menjadi Furniture

  • 15 Sep 2024 08:00 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Tenis tidak lagi hanya mendominasi lapangan olahraga; dalam beberapa tahun terakhir, pengaruhnya meluas ke dunia mode dan layar kaca. Kini, pengaruhnya bahkan merambah ke ruang tamu berkat kreativitas Mathilde Wittock, seorang desainer ramah lingkungan asal Belgia yang mengubah bola tenis bekas menjadi furnitur unik.

Dilansir dari laman edition.cnn.com, harapan desainer ramah lingkungan asal Belgia, Mathilde Wittock, yang membuat furnitur khusus dari bola tenis bekas. Kursi berdesain modern dan ramping buatannya sama sekali tidak menggunakan bantalan kecuali dari 500 bola tenis yang ditata dengan presisi. Bangku sepanjang satu meternya juga memiliki jumlah yang sama, dengan sekitar 270 bola yang berfungsi baik sebagai elemen estetika maupun struktur utama.

“Dibutuhkan sekitar 24 langkah pembuatan yang berbeda untuk (membuat) sebuah bola tenis, yang memakan waktu sekitar lima hari. Namun, bola tersebut hanya memiliki masa pakai yang sangat singkat. Saya mulai tertarik pada bola tenis karena saya sendiri pernah bermain tenis, jadi saya tahu ada banyak limbah” kata Wittock kepada CNN melalui panggilan video dari Brussels.

Sekitar 300 juta bola tenis diproduksi setiap tahun dan hampir semuanya berakhir di tempat pembuangan sampah, membutuhkan waktu lebih dari 400 tahun untuk terurai. US Open, yang baru saja berakhir akhir pekan lalu, menggunakan sekitar 70.000 bola setiap tahunnya, sementara Wimbledon tidak jauh di belakangnya, yaitu 55.000 bola.

Wittock memperkirakan siklus hidup sebuah bola hanya mencapai sembilan pertandingan, tergantung pada level tenis yang dimainkan.

“Meskipun masih berada di dalam kotaknya, jika kotaknya dibuka, gas di dalam bola tenis akan keluar seiring berjalannya waktu,” katanya. “(Pada akhirnya) bola-bola itu akan kempes dan Anda harus membuangnya.”

Wittock membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat minggu untuk membuat sebuah kursi, yang ia jual dengan harga $ 2.900. Setiap bola dipotong dan diwarnai dengan tangan, dengan warna-warna yang dipilih secara khusus agar sesuai dengan keinginan klien. Melalui banyak percobaan dan kesalahan, ia mampu memanfaatkan bentuk bola sambil menutupi beberapa fitur yang terlalu mudah dikenali.

“Saya harus menemukan cara untuk merubah penampilan ikonis bola tenis,” katanya. “Warnanya kuning dan memiliki garis-garis putih. Bagaimana saya bisa mendistorsi itu?”

Wittock mulai melihat kemungkinan desain peralatan olahraga ketika dia belajar di sekolah seni Central Saint Martins di London. “Saya sangat tertarik dengan desain ramah lingkungan dan dari mana saya mendapatkan sumber material,” katanya kepada CNN.

“Dan saya menyadari bahwa sangat rumit untuk melacak sejarah bahan-bahan tersebut. Anda tidak pernah tahu dari mana asalnya, atau bagaimana mereka diproses. Saya sangat kesulitan akan hal itu."

Saat ini, semua bahan yang digunakannya diperoleh melalui donasi dari klub-klub tenis. Pengumpulan dimulai dari skala kecil, kadang-kadang hanya 10 bola yang dibuang pada satu waktu, namun semakin bertambah. Kini, Wittock bekerja sama dengan Federasi Wallonia di Brussels, yang menawarkan seluruh stok mereka sekitar 100.000 bola. Berapa lama stok ini bertahan? “Cukup untuk beberapa bulan. Jika permintaan tinggi, mungkin sembilan bulan, karena saya memiliki ritme memotong bola tenis. Saya bisa memotong sekitar 1.800 bola per minggu,” katanya.

Namun, kreasi bukanlah satu-satunya tujuan. Faktanya, yang lebih penting bagi Wittock adalah bagaimana karya-karyanya dihancurkan.

“Saya adalah seorang desainer ramah lingkungan,” katanya.

“Desain ramah lingkungan adalah tentang sirkularitas. Anda bisa menggunakan bahan yang bagus yang rendah emisi karbon atau didaur ulang, tetapi Anda harus memikirkan siklus akhirnya. Jika itu bukan sebuah lingkaran, dan jika Anda tidak dapat menggunakan kembali (elemen-elemennya) untuk sesuatu yang lain, itu bukan desain ramah lingkungan. Bahkan lebih buruk lagi, karena itu adalah material baru.”

Di akhir masa pakai furniturnya, Wittock dapat membongkar ratusan bola tenis (yang dirangkai tanpa lem) untuk didaur ulang, di mana bulu-bulunya dibakar dan karetnya dicacah untuk dijadikan tikar taman bermain yang elastis.

Tantangan berikutnya? Memanfaatkan puluhan ribu klub tenis di Amerika Utara.

“Banyak orang yang tertarik di AS,” kata Wittock. “Saya benar-benar berpikir untuk datang dan mulai mendaur ulang di sana.” Jadi, lain kali saat Anda menonton turnamen, jangan meratapi bola-bola yang terbengkalai - siklus hidup mereka mungkin baru saja dimulai.

(Sumber: Fitriyah Andini_Universitas Diponegoro, edition.cnn.com)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....