Kisah Nabi Puasa 9 Muharram Tapi Tak Terlaksana, Kenapa?
- 17 Jul 2024 13:07 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram adalah salah satu puasa sunnah yang diinginkan oleh Nabi Muhammad saw, namun sayangnya beliau tidak sempat melaksanakannya karena wafat terlebih dahulu. Kisah ini punya makna dan menegaskan pentingnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram sebagai sunnah yang sangat dihormati dalam Islam.
Sejarah Puasa Tasu’a dan Asyura
Dalam Islam, puasa tidak hanya terbatas pada bulan Ramadan. Terdapat banyak puasa sunnah lainnya yang memiliki keutamaan besar, salah satunya adalah puasa pada bulan Muharram. Rasulullah saw pernah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR Muslim).
Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram memiliki keutamaan besar karena dapat menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya. Puasa ini dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt atas keselamatan Nabi Musa as dari kejaran Firaun. Karena itu, Nabi Muhammad saw memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut.
Keinginan Nabi untuk Puasa Tasu’a
Nabi Muhammad saw menyadari bahwa kaum Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa as. Oleh karena itu, beliau ingin membedakan umat Islam dari kaum Yahudi dengan menambah puasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram, yang disebut puasa Tasu’a.
Ustaz Faried Saenong dalam siaran radio kajian subuh 'Mutiara Pagi' di 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta menjelaskan, “Nabi Muhammad saw pernah menyatakan niat untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram agar berbeda dari puasa kaum Yahudi. Namun, beliau tidak sempat melaksanakannya karena wafat sebelum itu. Meskipun demikian, niat dan anjuran beliau untuk berpuasa pada hari tersebut tetap menjadi sunnah yang dihormati.”
Keutamaan dan Makna Puasa di Bulan Muharram
Puasa di bulan Muharram, termasuk puasa Tasu’a dan Asyura, memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ustaz Faried Saenong menjelaskan bahwa puasa ini tidak hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai peringatan akan berbagai peristiwa penting dalam sejarah agama Islam. “Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan Muharram. Allah mengangkat derajat Nabi Idris, menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir besar, dan menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api. Puasa di bulan ini mengingatkan kita pada kekuasaan dan rahmat Allah yang begitu besar,” kata Ustaz Faried.
Mengikuti Sunnah dan Menjaga Warisan Nabi
Meskipun Nabi Muhammad SAW tidak sempat melaksanakan puasa Tasu’a, beliau tetap menganjurkan umatnya untuk melakukannya. “Puasa pada tanggal 9 Muharram, 10 Muharram, dan bahkan 11 Muharram adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Kita bisa melaksanakan puasa ini sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW,” kata Ustaz Faried.
Puasa sunnah seperti Tasu’a dan Asyura tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga menjaga kita dari perbuatan dosa. “Puasa adalah perisai dari melakukan dosa. Ketika kita berpuasa, kita lebih sadar akan perbuatan kita dan lebih mudah menghindari dosa,” ujar Ustaz Faried menambahkan.
Menjaga Tradisi dan Menyebarkan Kesadaran
Selain sebagai bentuk ibadah, puasa Tasu’a dan Asyura juga mengandung nilai-nilai historis dan keagamaan yang mendalam. “Dengan berpuasa pada bulan Muharram, kita tidak hanya mengikuti sunnah Nabi, tetapi juga memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ini membantu kita lebih menghargai warisan agama dan menjaga tradisi yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW,” ucap Ustaz Faried menjelaskan.
Diakhir kajiannya, Ustaz Faried mengatakan kisah keinginan Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, yang tidak sempat terlaksana karena wafatnya, memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya mengikuti sunnah dan menjaga warisan beliau. Meskipun beliau tidak sempat melaksanakan puasa Tasu’a, anjuran dan niat beliau tetap menjadi petunjuk bagi umat Islam untuk melaksanakannya.
Menurutnya, dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah agama Islam dan menjaga diri dari perbuatan dosa. Dijelaskan, puasa ini adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki makna mendalam bagi setiap muslim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....