Tren Kecantikan dibalik Istilah Beauty is Pain
- 07 Jun 2024 09:51 WIB
- Kupang
KBRN,Kupang : Penampilan yang cantik adalah idaman setiap perempuan di dunia. Bahkan demi standar kecantikan ini banyak perempuan yang haru melalui beberapa tahap make over yang rumit dan menyakitkan.
Istilah “beauty is pain” atau “menjadi cantik harus menahan sakit” seolah sudah menjadi hal umum di kalangan perempuan. Namun, istilah ini tidak muncul begitu saja, tetapi diadaptasi dari kebiasaan perempuan spanyol yang ingin tampil cantik dengan sejumlah perawatan.
Dilansir dari Nationalgeographic, para wanita bangsawan dan keluarga Kerajaan Spanyol punya standar kecantikan tersendiri yang membuat mereka tampak menonjol dibandingkan wanita dari kalangan biasa. Potret kecantikan mereka ini diperlihatkan di ruang publik pasa saat festival berlangsung.
Hal ini menjadi magnet bagi setiap lapisan masyarakat dan mulai mendorong mereka untuk berinovasi dalam hal fashion dan kecantikan. Tren kecantikan ini menjadi seperti fenomena lintas kelas, mulai dari ratu sampai wanita kelas bawah.
Namun mirisnya, untuk mendapat penampilan yang diidam-idamkan di masa keemasan Spanyol, para wanitanya harus melalui berbagai proses perawatan diri yang panjang dan rumit. Bahkan, beberapa produk yang digunakan dalam kosmetik ini mengandung arsenic atau beracun yang menyebabkan sakit kepala dan kerusakan kulit serta gangguan penglihatan.
Para wanita ini mempunyai ruangan khusus untuk melakukan perawatan diri. Dalam bahasa Spanyol disebut “tocador”, semacam kamar kerja yang dipakai untuk berias. Tocador digunakan sebagai tempat untuk berpakaian, merawat rambut dan menata riasan, serta menyimpan produk perawatan kulit dan rambut juga perlengkapan kecantikan.
Menurut Nationalgeographic, pada abad ke-17 di Spanyol, standar kecantikan ideal bagi wanita Spanyol adalah rambut pirang, dan kulit putih pucat. Sehingga, pada masa tersebut praktek memutihkan wajah menjadi hal umum bagi kaum perempuan.
Ironisnya, produk pemutih yang digunakan saat itu terbuat dari bahan merkuri sehingga dapat menimbulkan kerusakan permanen pada kulit. Sementara itu, bahan pewarna rambut juga menggunakan pemutih yang diencerkan untuk mendapatkan tingkat warna yang berbeda sesuai selera.
Bukan hanya produk pemutih dan pewarna rambut, pemerah pipi atau blush on, pewarna bibir dan produk kosmetik lain juga dikenal sebagai bagian dari perawatan wajib para wanita Spanyol.
Bahan utama tocador dalam bahasa Spanyol dikenal sebagai color de granada atau warna delima. Pewarna ini dijual dalam bentuk lembaran kertas yang dikemas dalam wadah kecil yang disebut “salserillas”.
Proses make over wanita kala itu diawali dengan membuat wajah mereka terlihat pucat, kemudian mengecat bibir dan pipi mereka dengan perona, juga menggelapkan alis menggunakan campuran alkohol dan mineral hitam. Untuk menjaga tangan tetap putih dan lembut, mereka mengoleskan pasta yang terbuat dari campuran almond, mustard dan madu.
Perawatan tubuh dengan proses yang panjang dan rumit, bahkan menggunakan campuran bahan arsenik mengibaratkan sebuah pengorbanan untuk tampil cantik. Sampai sekarang beberapa prosedur bedah yang menyakitkan juga dilakukan untuk mendapatkan standar kecantikan tertentu. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....