Diperingati Setiap 4 April, Sejarah Hari Tikus Sedunia
- 04 Apr 2024 14:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pada hari ini, Kamis (4/4/2024), para pecinta hewan di dunia sedang memperingati Hari Tikus Sedunia (World Rat Day). Yuks, ketahui sejarah Hari Tikus Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 4 April tiap tahunnya.
Pada dasarnya, Hari Tikus Sedunia diinisiasi oleh pecinta hewan, agar orang-orang tak membenci tikus. Kemudian, para pecinta hewan mengharapkan, insan manusia berkenan menerima tikus sebagai peliharaan.
Diketahui, sebagian besar orang di dunia ini sangat membenci kehadiran tikus, karena bisa menyebarkan penyakit dan merusak barang. Tikus juga kerap kali dianggap hewan yang buruk karena dianggap kotor dan dapat memicu penyakit.
Meski banyak hal negatif dari tikus, ternyata hewan berkaki empat itu juga memiliki hal positif. Salah satunya tentang eksperimen ilmiah obat-obatan.
Mengutip laman UN Today, tikus merupakan salah satu hewan tertua. Mereka telah melihat kepunahan era jurassic dan menyaksikan lahirnya spesies baru.
Beberapa juga dikatakan telah menyaksikan munculnya peradaban manusia. Tikus disebut-sebut termasuk hewan berekor panjang dengan tubuh sedang berasal dari spesies Rodentia dan Genus Rattus.
Ekor panjang tikus bisa digunakan untuk mengontrol panas, mereka hidup sebagai hama hampir di seluruh dunia. Sebagian dari spesies tikus dikenalkan di era abad pertengahan, tikus Hitam sangat terkenal sebagai spesies invasif.
Mengutip laman Days of The Year, setiap budaya memiliki pendapat yang berbeda terkait dengan tikus. Misalnya di Asia, zodiak China menghormati tikus yang rendah hati sebagai hewan pertama dalam siklus dua belas tahun.
Zodiak China atau Shio mengasosiasikan mereka yang lahir di tahun tikus dengan berbagai ciri kepribadian positif. Termasuk optimisme, kecerdasan, dan ketekunan.
Selain itu, tikus juga disebut sebagai kendaraan Dewa Ganesha menurut cerita mitologi Hindu. Sementara di Eropa, hewan pengerat ini telah lama disalahkan atas penyebaran penyakit pes, terutama selama Black Death.
Kasus Black Death yang melanda Eropa pada Abad Pertengahan dan diperkirakan telah memusnahkan hingga 60 persen populasi. Penelitian yang lebih baru telah menyebabkan beberapa perdebatan mengenai sejauh mana tikus dapat dianggap bertanggung jawab.
Sementara, beberapa aktivis hak hewan mengutuk penggunaan tikus dalam konteks pengobatan. Padahal, tikus telah berkontribusi besar subjek uji dalam memajukan pemahaman dan pengobatan kita terhadap berbagai penyakit.
Seperti, penyakit kanker, diabetes, Alzheimer, dan Covid-19. Makhluk-makhluk ini juga menjadi kunci dalam studi kecerdasan, pembelajaran dan perilaku karena psikologi kompleks dan kapasitas emosional mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....