Brain Rot, Ancaman Era Digital Bagi Gen Z

  • 21 Des 2024 07:01 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Surakarta: Berbagai konten receh dan tidak berkualitas sangat deras membanjiri media sosial. Karena itu sangat perlu menyaring konten untuk dikonsumsi supaya tidak terjangkit Brain Rot , istilah yang sedang hits di jagad maya yang membahayakan terutama bagi Gen Z.

Finandita Untari,M.Psi,Psikolog.,CTC.,CGA dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, dalam tayangan kanal youtube mengatakan istilah brain rot ini dalam terminologi psikologi sebenarnya tidak dikenal. “Karena sebenarnya brain rot ini adalah istilah atau bahasa kiasan yang menunjukkan posisi seseorang yang mengalami kerusakan otak atau memang gangguan yang terjadi di otak,akibat menggunakan media sosial secara berlebih” katanya. Dikaitkan dengan Psikologi, ini adalah kondisi kesehatan mental yang menurun akibat konsumsi media sosial secara terus-menerus, dalam jangka waktu yang panjang dengan konten yang tidak bermutu.

Menurut Finandita mengkonsumsi konten media sosial harus dilihat dari dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif, kalau dari sisi positif hanya dilihat sesaat tidak akan menimbulkan masalah, karena hanya sebagai pelepas lelah ditengah masa rehat bekerja. Sebaliknya akan menimbulkan dampak negatif apabila konten receh dan tidak berkualitas tersebut dikonsumi dalam waktu yang lama, diulang-ulang dengan konten yang sama dan tidak ada unsur pendidikannya sama sekali.

Dampak negatif serius yang timbul ada beberapa hal, yaitu dalam Re-enforcement Theory disebutkan bahwa sesuatu yang secara instan masuk ke otak akan menimbulkan keinginan secara spontan untuk melihat lagi dan lagi. “ Jadi kalau ada dorongan untuk melihat lagi dan lagi ini akan menimbulkan rasa senang, tetapi senang disini sifatnya adiktif terhadap tontonan yang tidak bermutu tersebut.” ucap Finandita.

Dalam Social Learning Theory, manusia belajar dari lingkungannya dan dari apa yang dilihat, timbul perasaan membandingkan dirinya dengan lain. Sehingga untuk mendapatkan validasi harus menjadi seperti orang lain, stres apabila tertinggal informasi yang sedang viral (fomo).

Karena kecanduan konten-konten receh dan berkepanjangan akan mengakibatkan Neurophikologi, yaitu kerusakan atau disfungsi otak dan perubahan fungsi kognitif, emosional dan perilaku . “Kita mengenal istilah brain exercise , jadi otak harus dilatih terus menerus tentang hal yang baik, kalau terusan dilatih untuk hal yang baik maka otak kita akan mencari kebaikan juga, tetapi hasilnya akan sangat bertolak belakang apabila hanya dilatih dan diisi dengan sesuatu yang receh, tidak berkualitas atau justru hal negatif, maka kemampuan sinaps otak akan melemah, fungsi kognitif dan fungsi eksekutifnya tidak berkembang , yang seharusnya sudah mencapai higher order thingking skill" ujarnya.

Dampak yang membahayakan bagi Gen Z yang terindikasi terkena brain rot ini adalah pada saat memasuki masa kuliah dan masa kerja. Kesulitan untuk berdiskusi dan bekerja sama karena kemunduran kemampuan berfikirnya, daya berfikir kritisnya rendah dan sangat tidak produktif.

"Agar terhindar dari Brain rot baiknya mengurangi konten yang terlalu pendek dan instan, kurangi paparan cahaya dan visual,hindari tayangan yang mengagetkan dan yang memberikan informasi yang tidak valid. “Yang penting tambah terus pengetahuan dan literasi digital, perbanyak kegiatan edukasi yang disukai dan dilakukan dimasa lampau, kemudian bandingkan diri sendiri dimasa lalu dengan perbuatan baik yang sudah dilakukan dengan kondisi saat ini,” kata Finandita

(Wiwik Martani)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....