Sasando,Alat Musik Pulau Rote yang Mendunia

  • 18 Nov 2024 05:57 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan : Nusa Tenggara Timur (NTT ) merupakan provinsi yang tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya yang mempesona seperti hamparan laut yang biru dan pantai yang putih bersih. Namun, provinsi yang dijuluki Nusa Cendana ini kaya akan beragam budaya dan tradisi.Salah satunya alat musik tradisonal Sasando yang sempat mencuri perhatian dunia. Alat musik ini ditampilkan dalam pertemuan KTT Ke-42 Asean pada 9 – 11 Mei 2023 silam di Labuan Bajo, Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT). Cari tahu yuk seperti apa keunikan dari alat musik yang satu ini.

Alat musik tradisional ini berasal dari Pulau Rote. Dilansair dari laman kemenparekraf.go.id dari segi bentuk, sasando sudah bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Karena, alat musik petik ini terbuat dari daun lontar yang melengkung, berbentuk setengah lingkaran.

Dari segi suara, resonansi yang dihasilkan daun lontar menghasilkan suara yang khas, dan tidak bisa ditemukan pada alat musik lainnya. Petikan sasando menghasilkan suara yang sangat indah, romantis dan sangat khas. Tak heran kalau keunikan bentuk, bahan, dan melodi dari sasando berhasil menarik perhatian dalam gelaran KTT ke-42 ASEAN.

Sebelum gelaran KTT ASEAN, Sasando pun telah mendunia karena pernah tampil dalam salah satu side event G20 di Labuan Bajo 2022 lalu. Tepatnya pada ajang Spouse Program yang dihadiri 19 anggota G20, 6 negara undangan, dan 9 organisasi internasional. Bahkan, sasando dijadikan cendera mata yang diberikan oleh Ibu Iriana Joko Widodo kepada Ibu Negara Tiongkok, Madam Peng Liyuan.

Menarik jauh ke belakang, popularitas sasando di dunia tidak bisa dilepaskan dari sosok bernama Djitron Pah, yang mengenalkan sasando ke dunia lewat ajang Asia’s Got Talent (2015). Melalui ajang pencarian bakat tersebut, Djitron Pah berhasil membawa sasando mendunia melalui rangkaian tur ke Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Italia, Finlandia, Jerman, hingga Taiwan.

Jenis-Jenis Sasando.

Melihat dari berbagai aspek, memang sangatlah layak jika sasando mendunia. Namun, jika kita mengulik lebih dalam tentang sasando khas NTT, ternyata ada banyak jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis sasando yang populer, yaitu sasando gong, sasando biola, dan sasando elektrik.

Pertama, sasando gong khas Pulau Rote, yang merupakan sasando autentik dengan 12 dawai dari tali senar nilon sehingga ketika dipetik akan menghasilkan suara mengalun, lembut, dan merdu. Jenis sasando ini kerap dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.

Kedua, jenis sasando biola. Konon, sasando biola mulai berkembang di Kupang pada akhir abad ke-18. Alat musik petik ini merupakan hasil modifikasi dari Edu Pah, pakar pemain sasando. Bedanya dengan sasando gong, sasando biola bentuknya yang lebih besar dan memiliki 48 buah dawai. Karena dimodifikasi agar menyerupai biola, sasando jenis ini bisa menghasilkan suara halus dan merdu seperti biola. Biasanya sasando biola dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat NTT.

Mengikuti perkembangan teknologi, kini ada pula jenis sasando elektrik. Alat musik ini pertama kali diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Alasannya karena sasando tradisional hanya bisa didengarkan pada jarak dekat saja, sehingga perangkat elektronik ditambahkan agar suaranya bisa didengar lebih jauh.

Umumnya, sasando elektrik terdiri dari 30 dawai. Badan sasando tetap menggunakan daun lontar untuk mempertahankan bentuk aslinya. Perbedaan sasando elektrik terdapat pada spul atau transduser yang mengubah getaran dawai menjadi energi listrik, yang kemudian masuk ke dalam amplifier untuk menghasilkan suara yang lebih kencang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....