Bijak dalam Menjaga Kata-Kata adalah Nilai yang Berharga
- 02 Nov 2024 08:55 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Pepatah lama "diam itu emas" memiliki makna yang dalam tentang pentingnya berbicara pada waktu yang tepat dan menjaga kata-kata yang keluar. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk mengendalikan diri dan tidak berbicara sembarangan adalah salah satu kunci dalam menjalin hubungan yang baik dan menjaga keharmonisan sosial.
Berbagai riset juga menunjukkan bahwa sikap bijak dalam berbicara dapat berkontribusi pada kesehatan mental seseorang. Sebagaimana di kutip dari berbagai sumber, The American Psychological Association (APA) menurut penelitian yang dilakukan oleh The American Psychological Association (APA), kemampuan untuk menahan diri atau "self-control" dalam situasi emosional terbukti membantu mengurangi konflik interpersonal.
Penelitian ini menjelaskan bahwa orang yang cenderung tidak langsung merespons dalam situasi tegang cenderung lebih dapat mengatasi konflik secara produktif. "Mengambil waktu untuk berpikir sebelum berbicara dapat menghindari situasi yang tidak diinginkan dan membantu seseorang merespons dengan lebih bijak," ungkap Dr. Lisa Feldman, peneliti utama.
Di sisi lain, budaya Timur juga mendukung konsep ini, di mana dalam ajaran filsafat Taoisme, pepatah yang serupa, yaitu "Wu Wei" atau tidak bertindak secara berlebihan, juga menggambarkan pentingnya sikap diam dan tidak mengucapkan hal yang tidak perlu.
Menurut praktisi dan ahli budaya Tionghoa, Yu Zhen, prinsip ini mengajarkan bahwa ketenangan dalam berbicara dan berpikir mendalam sebelum bertindak merupakan tanda dari kedewasaan dan kebijaksanaan. Beberapa pakar komunikasi, seperti Joseph Grenny, penulis buku Crucial Conversations, menegaskan pentingnya berbicara hanya pada momen yang tepat.
Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa menyampaikan pendapat pada waktu yang kurang tepat bisa memicu salah paham atau bahkan konflik. "Orang yang terburu-buru berbicara seringkali hanya menambah masalah, bukan menyelesaikannya," tulis Grenny. Pepatah ini juga sering diterapkan dalam dunia bisnis.
Berdasarkan artikel dari Harvard Business Review, pemimpin yang mampu mendengarkan lebih banyak dan berbicara sedikit cenderung lebih dipercaya oleh rekan kerja dan karyawan. Ketika seseorang mendengarkan, ia memperlihatkan sikap menghargai dan tidak menghakimi, sehingga menciptakan lingkungan yang nyaman untuk diskusi yang lebih terbuka.
Bagi banyak orang, belajar untuk diam dan mendengarkan menjadi tantangan tersendiri. Namun, memahami bahwa "diam itu emas" bukan berarti selalu menghindari berbicara, melainkan menempatkan kata-kata pada saat yang benar-benar diperlukan. (Stanly Kalumata)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....