Asal Usul Nama " Gatot" Makanan Tradisional Asli Jawa

  • 04 Agt 2024 11:08 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya : Makanan tradisional atau dikenal dengan jajanan pasar dengan nama unik bisa dijumpai dengan mudah di Pulau Jawa salah satunya di Jawa Timur. Anda mungkin tidak asing mendengar nama "Gatot" jajanan pasar teman akrab tiwul makanan asli gunung kidul berbahan dasar singkong.

Kali ini kita akan membahas asal usul nama gatot dan sejarahnya.

Dilansir dari wikipedia, Gatot (gathot) adalah penganan kukus, dibuat dari gaplek yang disayat kecil-kecil memanjang kemudian direbus dan dicampur dengan gula, dimakan dengan parutan. Gatot juga bisa dikatakan kuliner atau makanan yang terbuat dari sisa bahan thiwul yang tidak berproses, teksturnya kenyal dan berwarna hitam pekat, gatot merupakan hasil dari proses fermentasi singkong. Biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan bila dinikmati ada perpaduan cita rasa manis, asin, dan gurih. Gatot merupakan penganan tradisional khas masyarakat Jawa yang populer di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penganan ini berasal dari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Makanan ini sudah dikonsumsi oleh masyarakat sejak masa kemerdekaan yakni tahun 1945-1949 dimana saat itu juga terjadi krisis pangan. Akhirnya masyarakat kemudian mengolah singkong menjadi gatot untuk menjadi makanan pokok mereka. Kondisi tanah Gunungkidul yang tandus dan sering mengalami krisis air ini merupakan salah satu cikal bakal terciptanya kuliner gatot.

Masyarakat setempat dianggap mampu menggantikan bahan pangan pokok nasi sehingga singkong menjadi pilihan utama karena daerah gunungkidul juga merupakan sentra ubi kayu ini. Sementara itu Gatot merupakan kuliner atau makanan yang terbuat dari sisa bahan thiwul yang tidak berproses.

Ternyata nama Gatot ini merupakan singkatan dari "gagal total". Gatot merupakan kuliner atau makanan yang terbuat dari sisa bahan thiwul yang tidak berproses.

Seperti diakui Sri Rejeki seorang ibu rumah tangga yang sangat menyukai jajanan tradisional seperti gatot. Menurutnya saat ini kalau ingin mencari makanan asli gunung kidul tersebut agak susah selain sepi peminat tetapi keberadaannya kalah degan makanam kekinian. "kalau jaman sekarang sih gatot dianggap kurang menarik dan kurang dikenal sama anak muda mereka pasti ga suka, kalau pas lagi pingin gatot susah carinya sekarang kalah sama makanan kekinian," ujarnya saat diwawancarai RRI Surabaya Sabtu (3/8/2024).

Kondisi ini kata Sri menunjukkan bahwa makanan tradisional seperti gatot harus dipertahankan agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....