Sejarah Kerak Telor

  • 26 Jun 2024 19:35 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang : Indonesia memiliki banyak makanan khas daerah dengan cita rasanya yang unik. Mulai yang manis, gurih, pedas, hingga asam.

Salah satunya adalah kerak telor dari Jakarta. Bagaimana sejarah makanan ini?

Dikutip dari Wikipedia, kerak telor diciptakan pada tahun 1920-an. Berawal dari sekelompok masyarakat Betawi yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat, melakukan percobaan.

Kelapa yang berlimpah di daerah tersebut mereka olah menjadi beraneka ragam makanan, salah satunya kerak telor. Pada zaman penjajahan Belanda, makanan ini tergolong mahal dan hanya bisa dimakan oleh masyarakat kelas atas.

Supaya dapat dinikmati semua kalangan, akhirnya masyarakat Betawi mulai memberanikan diri untuk menjajakan kerak telor dengan harga yang terjangkau. Pada tahun 1970-an, camilan tersebut mulai dijajakan di sekitar Monumen Nasional (Monas).

Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, mulai mempromosikan kerak telor. Seiring perkembangannya, kerak telor sering dijumpai di beberapa daerah di kota Jakarta.

Ternyata, kerak telor juga mempunyai filosofi. Pemimpin dicerminkan dengan telor, sedangkan perbedaan sifat individu-individu dicerminkan dengan semua rempah dan bumbu.

Sehingga, makna dari kerak telor adalah pemimpin yang mampu menyatukan perbedaan-perbedaan individu. Bahan yang digunakan untuk membuat kerak telor adalah beras ketan putih, telor ayam atau bebek, ebi (udang kering yang diasinkan), bawang merah goreng, dan bumbu halus.

Bumbu halusnya yaitu kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, kunyit, sereh, merica, garam, dan gula pasir. Kerak telor kini menjadi salah satu makanan khas Betawi yang menjadi favorit masyarakat Betawi sendiri maupun para wisatawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....