Kue Cucur Hingga Mancanegara

  • 27 Feb 2024 14:11 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Hampir setiap orang mengenal kudapan yang satu ini. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut, membuat kita nyaman menikmatinya. Terbuat dari tepung terigu, tepung beras dan gula merah, membuatnya mudah untuk dibuat. Mengutip laman Wikipedia, kata "cucur" diambil dari istilah dalam bahasa Jawa "cucur" ataupun "kucur" yang memiliki arti "pancuran" atau "kucuran" yang merujuk pada teknik pembuatan kue cucur.

Kue tradisional ini dapat ditemui di pasar-pasar tradisional di seluruh daerah di Indonesia. Kue ini juga dikenali dengan beragam nama atau sebutan lain, seperti Pinyaram, Panyaram, atau Paniaram oleh suku Minangkabau di Sumatera Barat, Dumpi oleh suku Mandar di Sulawesi Barat, Kucur atau Kocor oleh suku Madura dan Kangean di Madura dan Kepulauan Kangean, maupun masyarakat di provinsi Jawa Timur pada umumnya, Wadai Cucur di Kalimantan Selatan dan Tumpi dalam masyarakat Kutai.

Di Kalimantan Timur, masyarakat Kutai menggunakan kue ini saat melakukan kegiatan adat. Misalnya dalam prosesi naek ayun yang dirangkai dengan acara tasmiyah (pemberian nama pada anak). Dalam ritual tersebut, kue cucur sering dijadikan perlengkapan ritual ini. Selain itu, di Kalimantan Selatan juga ada tradisi Baayun Mulud , salah satu tradisi masyarakat Banjar pada bulan Rabiulawal, biasanya juga disediakan kue cucur untuk menghiasi ayunan anak yang mengikut tradisi tersebut.

Dikarenakan faktor perdagangan dan kekuasaan kerajaan-kerajaan kuno Indonesia pada zaman dahulu, Kue Cucur menyebar dari Indonesia hingga dikenali di wilayah maritim Asia Tenggara, di Brunei kue ini disebut sebagai Penyaram, di Malaysia kue ini dikenali dengan nama Kuih Cucur Jawa atau Cucur Jawa, sedangkan di Thailand dikenali sebagai Khanom Cūcùn (ขนมจู้จุน), Cūcùn (จูจุ่น) atau Cūcùn Yawā (จูจุ่นยะวา).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....