Warung Bakakak Parantina Nusasari Pertahankan Cita Rasa sejak 1994

  • 30 Agt 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ayam bakakak khas Sunda menggunakan ayam kampung utuh yang dibakar langsung di atas arang tanpa marinasi.
  • Warung Bakakak Parantina Nusasari telah berdiri sejak 1994 dan penjualannya meningkat hingga tiga kali lipat saat momentum tertentu.
  • Cita rasa autentik tetap dipertahankan, sementara inovasi dilakukan pada menu pendamping dan sambal.

RRI.CO.ID, Jakarta — Ayam bakakak menjadi salah satu kuliner khas Sunda yang masih dipertahankan Warung Bakakak Parantina Nusasari. Warung yang berada di Jalan Cimanggu, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, tersebut telah berdiri sejak 1994.

Manager Operasional Warung Bakakak Parantina Nusasari, Yuni Septiani, mengatakan ayam bakakak menggunakan ayam kampung. Ayam tersebut dibakar dalam kondisi utuh tanpa melalui proses marinasi.

“Ayam bakakak merupakan makanan khas Sunda, olahan ayam kampung asli yang dibakar tanpa marinasi. Jadi langsung dibumbui di atas arang.” ujar Yuni saat berbincang bersama Pro3 RRI Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026.

Menurut Yuni, ayam bakakak selama ini identik dengan berbagai acara masyarakat Sunda, seperti khitanan dan pernikahan. Warung tersebut kemudian hadir untuk membuat makanan tradisional itu dapat dinikmati masyarakat tanpa harus menunggu acara tertentu.

Usaha tersebut awalnya berasal dari kegemaran keluarga pemilik terhadap ayam bakakak. Resep yang digunakan hingga kini juga tetap mempertahankan cita rasa turun-temurun.

Penjualan ayam bakakak mencapai sekitar 100 hingga 200 ekor per hari pada hari biasa. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 250 ekor per hari ketika akhir pekan.

“Kalau weekday, penjualannya sekitar 100 sampai 200 ekor. Kalau weekend, biasanya lebih dari 250 ekor per hari.” katanya.

Yuni mengatakan penjualan dapat meningkat hingga tiga kali lipat ketika libur panjang dan momentum Idulfitri. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap ayam bakakak pada waktu tertentu.

Pelanggan Warung Parantina Nusasari berasal dari berbagai daerah, termasuk Sumatra, Jakarta, dan Bandung. Harga ayam bakakak dibanderol mulai Rp90 ribu hingga Rp115 ribu per ekor sesuai ukuran.

Warung tersebut juga menyediakan layanan take-away bagi pelanggan dari luar daerah. Ayam bakakak dapat disimpan hingga dua hari dalam freezer sebelum dipanaskan kembali.

Di tengah persaingan kuliner, Yuni memilih mempertahankan rasa autentik ayam bakakak sambil melakukan inovasi pada menu pendamping dan sambal. Sementara itu, inovasi dilakukan pada menu pendamping dan sambal.

“Kalau untuk bakakak, kita tidak akan mengubah rasa. Kita mengutamakan otentik, jadi resep turun-temurun tetap dipertahankan.” ucap Yuni. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....