Dari Bakso hingga Semur, Ini Makanan Indonesia yang Dipengaruhi Budaya Asing
- 27 Agt 2026 07:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bakso, soto, dan semur telah menjadi bagian integral dari identitas kuliner Indonesia dan dianggap sebagai makanan khas yang sudah ada sejak lama.
- Perjalanan perkembangan makanan tradisional Indonesia ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan dan dipengaruhi oleh berbagai budaya asing.
- Pengaruh budaya asing turut membentuk dan mempengaruhi berbagai hidangan yang kini dianggap sebagai makanan khas Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bakso, soto, hingga semur sudah begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Makanan-makanan tersebut bahkan sering dianggap sebagai bagian dari identitas kuliner yang sudah ada sejak lama.
Namun, perjalanan sejumlah makanan itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Pengaruh budaya asing turut membentuk berbagai hidangan yang kini justru dianggap sebagai makanan khas Indonesia.
Pertemuan tersebut berlangsung melalui perdagangan, perpindahan masyarakat, hingga interaksi budaya selama berabad-abad. Berikut beberapa makanan hasil akulturasi budaya asing yang kemudian beradaptasi dengan selera lokal hingga melahirkan cita rasa yang berbeda:
Bakso
Bakso merupakan salah satu makanan yang mendapat pengaruh kuat dari budaya Tionghoa. Hidangan ini dibawa masyarakat Tionghoa ke Nusantara dan kemudian berkembang dengan menyesuaikan bahan serta selera masyarakat setempat.
Salah satu cerita populer menyebut bakso berawal dari kisah Meng Bo. Ia disebut menumbuk daging dan membentuknya menjadi bulatan agar ibunya lebih mudah menyantap daging.
Pada awal perkembangannya, bakso menggunakan daging babi yang sesuai dengan arti kata “bak” dalam bahasa Tionghoa. Di Indonesia, hidangan tersebut kemudian lebih umum menggunakan daging sapi dan berkembang menjadi makanan yang dikenal luas saat ini.
Kecap Manis
Kecap manis yang kini identik dengan masakan Indonesia juga memiliki jejak budaya Tionghoa. Tradisi membuat kecap dibawa oleh masyarakat Tionghoa ke Nusantara melalui hubungan perdagangan dan kemudian berkembang di masyarakat lokal.
Kecap yang awalnya memiliki cita rasa asin kemudian disesuaikan dengan selera masyarakat Jawa. Penambahan gula kelapa membuat rasanya lebih manis dan akhirnya melahirkan kecap manis yang kini menjadi salah satu bumbu penting dalam masakan Indonesia.
Onde-onde
Onde-onde dikenal sebagai salah satu jajanan pasar yang mudah ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Jajanan berbentuk bulat dengan taburan wijen ini memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa dan masuk ke Nusantara melalui hubungan perdagangan.
Seiring berkembangnya waktu, onde-onde mengalami penyesuaian dengan bahan dan selera masyarakat lokal. Isian yang digunakan pun berkembang, termasuk kacang hijau yang kini menjadi salah satu varian paling umum di Indonesia.
Mie Aceh
Mie Aceh menunjukkan bahwa akulturasi kuliner Nusantara juga mendapat pengaruh dari India. Cita rasa karinya yang kuat serta penggunaan sejumlah rempah seperti asam sunthi, temurui, dan daun gegareng memiliki kemiripan dengan tradisi masakan India sebelum berpadu dengan bahan lokal Aceh.
Semur
Semur merupakan salah satu hidangan rumahan yang sudah begitu melekat dengan kuliner Indonesia. Namun, namanya sering dikaitkan dengan teknik memasak smoor dari Belanda yang kemudian berkembang di Nusantara.
Dalam perkembangannya, semur beradaptasi dengan bahan dan cita rasa lokal, termasuk penggunaan kecap manis dan rempah. Pengaruh tersebut kemudian berpadu dengan tradisi kuliner masyarakat Tionghoa dan menghasilkan semur dengan karakter rasa yang khas Indonesia.
Soto Betawi
Soto Betawi memang sangat identik dengan kuliner Jakarta, tetapi sejarahnya menunjukkan adanya pengaruh dari berbagai budaya. Hidangan ini disebut berkembang dari pertemuan tradisi kuliner masyarakat Indonesia dengan pengaruh Tionghoa dan India.
Pengaruh tersebut terlihat dari penggunaan bumbu serta teknik pengolahan yang berkembang di Jakarta. Salah satu pengaruh Tionghoa yang kerap dikaitkan dengan sejarahnya adalah hidangan bernama “cuado”, yang kemudian beradaptasi dengan bahan dan selera masyarakat setempat. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....