Poteng & Jaje Tujak, Ketan Khas Sasak

  • 21 Mei 2025 10:03 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Di tengah arus modernisasi dunia kuliner, cita rasa tradisional tak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat. Di Pulau Lombok, dua hidangan khas suku Sasak masih bertahan dan dicintai hingga kini: poteng dan jaje tujak. Keduanya bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari budaya dan warisan leluhur yang kaya makna.

Dua Hidangan, Satu Bahan Dasar: Ketan

Poteng dan jaje tujak sama-sama dibuat dari beras ketan, namun melalui proses pengolahan yang berbeda. Itulah yang membuat tekstur dan cita rasanya unik. Kedua makanan ini sering dijumpai saat hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, atau ketika ada hajatan adat dan keluarga. Di luar momen tersebut, keduanya juga bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional maupun toko kue khas Lombok.

Jaje Tujak: Ketan yang Ditumbuk Jadi Kenangan

Jaje tujak, dalam bahasa Sasak berarti “kue yang ditumbuk”. Proses pembuatannya cukup unik dan memerlukan tenaga: ketan yang telah dikukus matang kemudian ditumbuk atau digilas hingga halus menggunakan alat tradisional. Teksturnya pun lembut, kenyal, dan sedikit padat, sangat cocok disantap bersama kelapa parut manis atau hanya begitu saja sebagai camilan sore.

Teknik ini bukan hanya soal memasak, tapi juga menyimpan nilai kebersamaan. Di masa lalu, kegiatan "menujak" dilakukan bersama-sama oleh para ibu dan gadis desa, menjadi ajang berkumpul dan bercerita.

Poteng: Manisnya Fermentasi yang Pas

Sementara itu, poteng adalah versi fermentasi dari ketan. Setelah dimasak, ketan dicampur ragi lalu disimpan selama sekitar tiga hari dalam wadah tertutup. Jika proses fermentasi berjalan sempurna, hasilnya adalah tape ketan yang manis alami, lembut, dan sedikit berair. Poteng memiliki cita rasa khas yang manis dan menyegarkan, sering disantap dingin atau jadi pelengkap jaje tujak dalam satu sajian.

Meskipun tape ketan dikenal di berbagai daerah di Indonesia, poteng ala Lombok memiliki kekhasan dari jenis ketan dan cara pengolahannya yang tetap mempertahankan metode tradisional.

Tak Hanya Tradisi, Tapi Juga Peluang Usaha

Poteng dan jaje tujak kini tak hanya disajikan dalam acara adat. Banyak pelaku UMKM di Lombok yang melihat potensi bisnis dari kuliner ini. Mereka menjual dalam kemasan praktis, cocok untuk oleh-oleh wisatawan atau sekadar camilan harian. Rasanya yang khas dan tidak mudah ditemukan di luar Lombok membuatnya istimewa.

“Saya jual poteng dan jaje tujak di pasar tiap pagi, dan selalu laris, apalagi menjelang hari raya,” ujar Bu Rumiati, penjual kue tradisional di Pasar Pagesangan, Mataram. “Banyak juga yang pesan buat hajatan atau hantaran,” tambahnya.

Warisan Sasak yang Terus Bertahan

Di tengah gempuran makanan instan dan viral, poteng dan jaje tujak tetap punya tempat. Bagi masyarakat Sasak, ini bukan sekadar makanan, tapi simbol keberkahan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Jika Anda berkunjung ke Lombok, jangan lewatkan kesempatan mencicipi dua kuliner khas yang membawa rasa dan cerita dalam setiap gigitannya. Poteng dan jaje tujak bukan hanya memanjakan lidah, tapi juga mengajak kita menyelami budaya Lombok yang kaya dan penuh rasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....