IHSG Turun 1,7 Persen ke Level 6.429 saat Jeda Siang Perdagangan

  • 14 Sep 2026 12:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG turun1,7 persen ke level 6.429,88 pada jeda siang perdagangan Senin 14 September 2026, setelah dibuka di zona negatif pada awal sesi.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot saat jeda siang perdagangan Senin, 14 September 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat berada di level 6.429,88 atau turun 111,49 poin (1,7 persen).

Saat pembukaan perdagangan, IHSG turun 7,52 poin ke level 6.533,86 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Analis sebelumnya memprakirakan IHSG akan berbalik menguat setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.

Penurunan IHSG akhir pekan lalu mencapai 0,73 persen ke level 6.541,38 pada Jumat, 11 September 2026. Investor asing membukukan net sell Rp733 miliar dengan BBCA, CUAN, CPIN, ADRO, dan BBNI dominan dijual.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memprediksi IHSG berpeluang rebound. “Ini seiring penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS),” katanya.

Menurut Fanny, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.450 hingga 6.525. Sementara itu, tingkat ketahanannya diperkirakan berada pada rentang 6.600 hingga 6.640.

Fanny mengatakan indeks utama Wall Street di AS meningkat saat penutupan akhir pekan. Data terbaru inflasi AS memberikan sinyal kenaikan suku bunga the Fed.

Indeks S&P 500 naik 0,86 persen, Nasdaq menguat 0,96 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,98 persen. “Kenaikan indeks saham mengikuti turunannya harga minyak dan harga konsumen yang solid,” ucapnya.

Menurut dia, indeks harga konsumen mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi. Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada bulan lalu karena harga bensin kembali naik setelah turun dua bulan berturut-turut.

Tekanan inflasi membuat The Fed harus memperketat kebijakan moneternya. Di sisi lain, harga minyak turun, tetapi terus mencatat kenaikan sekitar 9 persen dalam sepekan.

Kenaikan harga minyak disebabkan eskalasi konflik Timur Tengah, yang menyebabkan kekhawatiran akan gangguan pasokan berkepanjangan. “Harga minyak mentah Brent turun hampir 3 persen, tetapi tetap berada di atas USD104 per barel,” ujar Fanny.

Sementara itu, bursa utama di kawasan Asia Pasifik anjlok pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Pasar saham Korea Selatan dan Jepang memimpin penurunan di kawasan tersebut.

Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 1,9 persen dan Nikkei 225 Jepang merosot 1,8 persen. Hang Seng Hong Kong juga turun 0,6 persen dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,9 persen.

Indeks saham Taiwan anjlok1,6 persen dan CSI 300 Tiongkok turun 0,8 persen. Penurunan tersebut terjadi setelah indeks saham-saham AS tertekan oleh lonjakan harga minyak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....