Eksistensi Uang Logam di Tengah Gempuran Digitalisasi

  • 14 Sep 2026 08:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Budi, penjual bubur sejak tahun 1990an, tetap konsisten menggunakan sistem pembayaran tunai tanpa beralih ke digital meskipun tren modernisasi tersebar luas.
  • Dia menghargai setiap bentuk pembayaran dari pelanggan, termasuk pecahan logam seperti uang dua ratus rupiah, sebagai wujud penghormatan terhadap kepercayaan pembeli.
  • Budi percaya tidak semua orang memiliki akses atau kemampuan menggunakan uang digital, sehingga tetap menerima tunai untuk melayani semua segmen pelanggannya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Berjualan bubur dan melayani pelanggan sejak era 1990-an membuat Budi tetap mempertahankan sistem pembayaran tunai. Hingga kini, ia konsisten menerima pembayaran secara langsung, termasuk uang logam pecahan kecil hingga uang kertas yang kondisinya rusak.

Bagi Budi, tidak semua orang menggunakan pembayaran digital. Ia juga menghargai setiap rupiah yang diberikan pelanggan, termasuk uang logam pecahan Rp200 yang kerap digunakan untuk membayar bubur.

"Sering saya nerima uang recehan dua ratusan. Orang bayar bubur, saya tetap terima saja," kata Budi sambil memperlihatkan kumpulan uang logam kepada RRI di kawasan kantin Tanah Abang 1, Senin, 14 September 2026.

"Masa saya tolak, nanti dibilang sombong amat tukang bubur. Padahal kalau saya beliin rokok saja di minimarket, laku itu duitnya. Saya terima saja logam recehan, saya kumpulin di plastik ini," katanya.

Selain uang logam, Budi juga kerap menerima uang kertas yang robek dan telah diberi perekat. Uang tersebut tetap diterimanya dan dikumpulkan dalam satu wadah plastik.

Menurut Budi, setiap pecahan uang tetap memiliki nilai. Ia memilih menerima pembayaran tersebut karena memahami bahwa mendapatkan uang bukan perkara mudah bagi sebagian masyarakat.

"Ada saja neng yang bayar pakai uang sobek. Saya lihat waktu dia ngasih duit, tapi diam saja, biarin," katanya.

"Paling setelah itu saya kumpulin di plastik, nanti tukar sama mamang keliling yang menukar uang sobek. Orang cari duit susah, kok. Terima saja orang bayar, jangan ditolak," ujarnya.

Sementara itu, Dima, seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga, juga terbiasa mengumpulkan dan menukarkan uang pecahan kecil. Memiliki dua orang anak membuatnya perlu menyediakan uang pecahan Rp1.000 dan Rp2.000 untuk keperluan jajan anak-anaknya.

Ia mengumpulkan uang logam dari kembalian belanja sebelum menukarkannya dengan uang kertas di minimarket. Menurutnya, uang logam tetap berguna untuk transaksi bernilai kecil, meski anak-anaknya lebih memilih uang kertas karena tidak mudah terjatuh.

"Kalau ada kembalian receh logam, aku kumpulin dulu. Kalau sudah banyak, aku tukar lagi ke minimarket karena aku dapat juga kembalian belanja dari sana. Buat anak-anak jajan sekolah, mereka enggak mau kalau uang logam receh, soalnya gampang jatuh. Jadi aku tukar ke uang kertas," kata Dima saat ditemui RRI di sebuah minimarket kawasan Abdul Muis, Senin, 14 September 2026.

Uang Rusak Masih Bisa Ditukar

Melansir laman resmi Bank Indonesia, masyarakat dapat memperoleh penggantian uang Rupiah yang memenuhi ketentuan penukaran sesuai dengan nominal yang ditukarkan. Penukaran uang Rupiah dapat dilakukan melalui layanan kas keliling Bank Indonesia.

Masyarakat terlebih dahulu melakukan pemesanan melalui aplikasi PINTAR Bank Indonesia. Staf Kasir Bank Indonesia Bengkulu, Mub'ah Fahrizal, mengatakan uang Rupiah yang mengalami kerusakan tidak serta-merta kehilangan nilainya.

"Kerusakan uang yang disebabkan berbagai kondisi tidak serta-merta membuat uang tersebut kehilangan nilainya. Uang yang robek, dimakan rayap, terkena air atau bahkan terbakar tetap dapat diajukan untuk penukaran sepanjang memenuhi ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia," kata Mub'ah kepada RRI.co.id Bengkulu, Selasa, 8 September 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....