Data Ekonomi Dalam Negeri Bagus, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Perkasa

  • 09 Sep 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,69 persen atau 121 poin ke posisi Rp17.511 per dolar AS
  • Penguatan rupiah hari ini ditopang oleh sejumlah data ekonomi. Diantaranya data penjualan ritel otomotif dan Indeks Keyakinan Konsumen ( IKK)
  • Gejolak harga minyak tidak menyebabkan rupiah tertekan seperti yang biasa terjadi

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS sepanjang hari ini hingga penutupan perdagangan. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,69 persen atau 121 poin ke posisi Rp17.511 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memprakirakan penguatan rupiah akan berlanjut pada Kamis besok. “Ada kemungkinan menguat 50 poin, sehingga rupiah menjadi Rp17.480 per dolar AS,"ujarnya, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Ibrahim, penguatan rupiah hari ini ditopang oleh sejumlah data ekonomi. Diantaranya data penjualan ritel otomotif dan Indeks Keyakinan Konsumen ( IKK). “Di luar ekspektasi, IKK bulan Agustus 118,5 lebih tinggi dibandingkan di bulan Juli sebesar 116,8,” ucap Ibrahim.

Kenaikan IKK, tambahnya, merupakan kenaikan terbaik dari bulan Januari tahun 2026.” “Membaiknya IKK mendorong optimisme pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga sebesar 5,3 persen kemungkinan besar akan tercapai.

Sementara itu, penjualan ritel mobil melonjak tinggi di bulan Agustus 2026 sebesar 7,7 persen atau 83.442 unit. “Ini artinya bulan Agustus adalah bulan yang paling menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha otomotif karena penjualannya lebih tinggi,” ujar Ibrahim.

Nilai tukar rupiah hari ini menguat tajam di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah dan di Eropa Timur. Di Timur Tengah bukan hanya AS dan Iran yang salin serang, kelompok Houthi Yaman juga melakukan serangan ke wilayah Arab SAudi

Di Eropa Timur, Rusia masih terus meluncurkan rudal-rudalnya ke wilayah Ukraina. Sehingga menyebabkan kebakaran di kota-kota besar di Ukraina.

Di sisi lain, konflik di kedua wilayah tersebut menyebabkan gejolak harga minyak dunia. Minyak Brent, kata Ibrahim, harganya sudah di atas 100 USD AS.

Tapi yang menarik menurutnya, gejolak harga minyak tidak menyebabkan rupiah tertekan seperti yang biasa terjadi. “Mengapa? Karena data ekonomi dalam negeri cukup bagus dan pasar optimis, arus modal juga kembali masuk,” ucap Ibrahim menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....