IHSG Terkoreksi 0,58 Persen ke Level 6.647,49 hingga Jeda Siang Perdagangan
- 09 Sep 2026 12:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG terkoreksi 0,58 persen ke level 6.647,49 pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu, 9 September 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi melemah saat jeda siang perdagangan, Rabu 9 September 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG tercatat di level 6.647,49 atau turun 38,9 poin (0,58 persen) dibandingkan saat pembukaan.
IHSG sebelumnya dibuka naik 0,22 persen ke level 6.700,8 dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Namun, IHSG sempat menyentuh level terendah di posisi 6.642,15 hingga penutupan sesi pertama.
Meski sempat naik saat pembukaan, IHSG akhirnya bergerak turun hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Tim Phintraco menilai tekanan tersebut terjadi di tengah penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Kembali beroperasinya Bandara Soekarno-Hatta dan kenaikan cadangan devisa Agustus 2026 menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, investor kini masih mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan IHSG.
“Investor akan mencermati indeks keyakinan konsumen (IKK) yang akan dirilis Bank Indonesia (BI),” katanya. Menurut Tim Phintraco, IKK diperkirakan sedikit naik di level 117 pada Agustus 2026 dibandingkan 116,8 pada Juli 2026.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap IHSG juga masih dipengaruhi perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memberikan tekanan terhadap pasar domestik.
Harga minyak Brent yang mendekati USD100 per barel berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Padahal pada APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak sebesar USD70 per barel.
Tim Phintraco menilai harga minyak yang bertahan tinggi dalam waktu lama berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri. Kondisi tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati investor terhadap pergerakan pasar.
Kenaikan harga minyak juga diperkirakan memberikan dampak berbeda terhadap sejumlah sektor di pasar saham. Sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan barang konsumsi berpotensi mendapat tekanan dari kondisi tersebut.
Sebaliknya, sektor energi seperti minyak dan gas beserta sektor pendukungnya diperkirakan mendapat sentimen positif. Komoditas yang berkaitan dengan energi juga berpotensi menjadi sektor yang paling diuntungkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....