Rupiah Menguat Delapan Poin pada Penutupan Perdagangan 8 September 2026

  • 08 Sep 2026 17:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah naik 0,05 persen atau delapan poin ke posisi Rp17.632 per dolar AS.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat 0,05 persen atau delapan poin pada penutupan perdagangan Selasa 8 September 2026. Menurut Bloomberg, saat ini nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.632 per dolar AS.

Perkembangan di Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar uang. “Iran menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru dan menetapkan koridor pelayaran alternatif,” kata Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.

Menurut dia, pelaku pasar mengkhawatirkan kebijakan tersebut akan makin menghambat lalu lintas kapal tanker yang melalui selat tersebut. Di sisi lain, Iran menyebut kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan di Selat Hormuz sudah hampir tercapai.

“Mekanisme pengaturan yang disepakati Iran-Oman diharapkan dapat meredakan gangguan pelayaran,” ucapnya. “Terutama bagi kapal-kapal pengangkut komoditas.”

Ibrahim menambahkan pembatasan di Selat Hormuz menyebabkan meningkatnya jumlah pelayaran di perairan Bab el-Mandeb. “Jumlah kapal yang melalui perairan tersebut meningkat dari 17 menjadi 29 unit,” kata analis pasar uang tersebut.

Dari sisi ekonomi, pasar akan fokus pada Indeks Harga Produsen AS yang akan dirilis pada Kamis 10 September 2026. AS juga akan merilis Indeks Harga Konsumen atau tingkat inflasi umum.

“Jika inflasi masih tinggi, itu akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed,” ujarnya. Menurut Ibrahim, pasar saat ini melihat peluang The Fed menaikkan suku bunga mencapai 60 persen.

Di dalam negeri, pelaku pasar fokus pada laporan Bank Indonesia (BI) mengenai posisi cadangan devisa Indonesia. Pada Agustus 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD146,5 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang senilai USD143,5 miliar.

BI menyatakan cadangan devisa Indonesia masih berada dalam standar kecukupan internasional atau setara tiga bulan impor. “Cadangan devisa juga cukup untuk menopang ketahanan sektor eksternal, serta menjadi stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia,” kata Ibrahim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....