IHSG Melemah ke Level 6.660,79 di Sesi I Perdagangan

  • 04 Sep 2026 12:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG melemah 0,11 persen atau 7,1 poin ke level 6.660,79 pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat, 4 September 2026.
  • Indeks dibuka pada angka 6.695,69 dan sempat menyentuh level tertinggi di 6.704,12 dengan angka terendah di 6.637,48.
  • Fluktuasi IHSG menunjukkan volatilitas pasar dalam sesi perdagangan pagi dengan pelemahan signifikan sebesar 35 poin dari level pembukaan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 4 September 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 0,11 persen atau 7,1 poin ke level 6.660,79, setelah dibuka pada angka 6.695,69.

Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.704,12. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6.637,48.

Tim Phintraco Sekuritas menilai membaiknya bursa global dan pasar obligasi menjadi sentimen positif bagi IHSG. Namun, potensi aksi ambil untung menjelang akhir pekan menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

“Secara teknikal, IHSG menguji level 6.705-6.760 pada perdagangan hari ini. Namun perlu diwaspadai potensi pengambilan keuntungan menjelang akhir pekan di tengah wilayah global yang relatif tinggi,” ucap Tim Phintraco dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 September 2026.

Wall Street Amerika Serikat ditutup menguat cukup signifikan pada perdagangan Kamis sebelumnya. Penguatan tersebut dipengaruhi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan saham perangkat lunak.

Mayoritas bursa saham Asia-Pasifik juga kembali menguat pada perdagangan Kamis sebelumnya. Pelaku pasar masih menantikan data tenaga kerja AS dan sinyal kebijakan suku bunga The Fed.

Dari dalam negeri, pasar mencermati rencana efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027. Anggaran MBG disebut akan ditekan dari Rp240 triliun menjadi di bawah Rp200 triliun.

Tim Phintraco menilai penghematan anggaran tersebut berpotensi membuka ruang bagi program pendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah tersebut juga berpotensi membantu pemerintah menekan defisit anggaran.

Selain itu, pasar juga mencermati rencana pertemuan OPEC+ terkait tingkat produksi minyak pada Oktober mendatang. Sebelumnya, OPEC+ telah menaikkan kuota produksi minyak sebesar 188 ribu barel per hari mulai September 2026.

"Rusia menyatakan bahwa sekutunya tidak berencana mengurangi produksi karena pemulihan permintaan global. Jika OPEC+ kembali menaikkan produksi, diharapkan dapat menahan kenaikan harga minyak lebih lanjut," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....