IHSG Diprakirakan Konsolidasi Jelang Pengumuman Sejumlah Data Ekonomi oleh BPS
- 01 Sep 2026 07:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan berkonsolidasi dalam perdagangan hari ini
- IHSG sepanjang bulan Agustus naik 4,64 persen secara bulanan. Secara tahun berjalan dari Januari-Agustus 2026, IHSG terkoreksi 24,53 persen
- Tim Phintraco memprakirakan akan terjadi kenaikan inflasi 0,2 persen di bulan Agustus
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan berkonsolidasi dalam perdagangan hari ini, Selasa 1 September 2026. Pada Senin kemarin, IHSG ditutup menguat 0,11 persen di level 6.525.
Namun penutupan perdagangan di akhir Agustus masih disertai aksi jual saham oleh investor asing sebesar Rp710,56 miliar. Saham yang paling banyak di jual asing adalah CPIN, EMAS, BUKA, UNVR dan ASII.
Meski demikian, menurut catatan Phintraco Sekuritas, IHSG sepanjang bulan Agustus naik 4,64 persen secara bulanan. Secara tahun berjalan dari Januari-Agustus 2026, IHSG terkoreksi 24,53 persen.
"Untuk hari ini, secara teknikal IHSG diprakirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa, 1 September 2026. Pelaku pasar menantikan data inflasi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.
Tim Phintraco memprakirakan akan terjadi kenaikan inflasi 0,2 persen di bulan Agustus. Sebelumnya, pada Juli 2026, terjadi deflasi sebesar 0,14 persen.
"Sehingga estimasinya, inflasi tahunan di bulan Agustus 2026 naik menjadi 3,13 persen, dari 2,88 persen di bulan Juli," ucap Tim Phintraco.
Sementara itu, neraca perdagangan diperkirakan mencatatkan defisit USD300 juta di Juli 2026. Defisitnya menurun dari USD450 juta pada Juni 2026.
Sedangkan indeks PMI Manufacturing diestimasikan sedikit naik pada level 50,5 di Agustus 2026. Sebelumnya, di bulan Juli indeks PMI manufaktur di level 50,2.
Dari sisi global, pelaku pasar akan mencermati imbas serangan AS ke wilayah Iran yang memicu kenaikan kembali harga minya dunia. "Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, berpotensi akan kembali mendorong kenaikan laju inflasi," ujar Tim Phintraco.
Di saat yang sama, the Fed mengisyaratkan untuk lebih fokus menurunkan inflasi menuju target 2 persen. "Hal ini semakin meningkatkan ekspektasi the Fed akan meningkatkan suku bunga pada bulan September," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....