DPR Spill 3 Tantangan Utama Calon Deputi Gubernur Senior BI

  • 27 Agt 2026 03:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi XI DPR M. Kholid menyoroti tiga tantangan utama bagi calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida Budiman.
  • Tiga tantangan tersebut meliputi pengembangan ekonomi syariah, penurunan cost of fund sektor riil, serta sinergi fiskal dan moneter.
  • DPR mengingatkan pentingnya menjaga independensi Bank Indonesia agar terhindar dari risiko fiscal dominance yang dikhawatirkan pasar global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI M. Kholid menyoroti tiga tantangan strategis untuk calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Sektor ekonomi syariah dan industri halal menjadi salah satu fokus sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Uji kelayakan dan kepatuhan terhadap calon pejabat bank sentral dilaksanakan pada Rabu, 26 Agustus 2026. Penurunan cost of fund secara efektif diperlukan agar dampak kebijakan moneter dirasakan langsung sektor riil.

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mempertanyakan efektivitas instrumen transmisi kebijakan moneter di Gedung Nusantara I. Penyesuaian kebijakan moneter diharapkan mampu mendukung agenda penciptaan lapangan kerja serta pembangunan nasional.

Kholid menilai koordinasi antara pemangku kebijakan moneter dan fiskal berisiko memengaruhi persepsi pasar global secara signifikan. Ia menekankan pentingnya menjaga independensi bank sentral dalam mengelola stabilitas nilai tukar Rupiah.

“Kalau kita bicara tentang sumber pertumbuhan ekonomi baru, maka ekonomi syariah, keuangan syariah, industri halal itu adalah salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk menggerakkan ekonomi Indonesia semakin lebih baik lagi,” ujar Kholid.

Anggota DPR dari Fraksi PKS ini juga menyoroti hambatan pembiayaan yang membebani para pelaku usaha domestik. Kebijakan bank sentral dituntut tetap menjaga keseimbangan antara target pertumbuhan ekonomi dan stabilitas moneter.

“Instrumen transmisi kebijakan moneter yang paling krusial itu adalah bagaimana Bank Sentral bisa menurunkan cost of fund secara efektif, sehingga transmisi kebijakan moneter itu dirasakan oleh sektor riil,” kata Kholid.

Dia menambahkan bahwa turbulensi ekonomi global kerap memicu dilema besar dalam penentuan arah kebijakan bank sentral. Kholid mengingatkan pentingnya strategi penanganan risiko agar tidak memicu munculnya fenomena fiscal dominance.

“Kita sering menghadapi dilema di tengah turbulensi ekonomi yang begitu luar biasa. Ketika Bank Sentral dipaksa untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar, tapi di saat yang sama dituntut untuk agar berkontribusi dengan mandat yang baru tersebut,” ucap Kholid.

M. Kholid menegaskan bahwa batas koordinasi kebijakan fiskal dan moneter harus dijaga dengan jelas serta hati-hati. Kepercayaan pasar internasional terhadap kredibilitas bank sentral menjadi kunci utama keberlanjutan stabilitas ekonomi nasional.

“Sinergi moneter dan fiskal dilakukan secara hati-hati. Jangan sampai nanti terjadi apa yang disebut dengan fiscal dominance,” ujar Kholid.

Kholid meminta calon pejabat memaparkan langkah konkret untuk mempertahankan kepercayaan pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI). Tata kelola bank sentral yang kredibel diharapkan mampu menjawab tantangan ekonomi nasional tanpa mengorbankan independensi.

“Bagaimana kita mendorong pertumbuhan tapi di saat yang sama tidak menjadikan fiscal dominance yang dikhawatirkan oleh global market?” kata Kholid.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....