Rupiah Berbalik Melemah pada Penutupan Perdagangan 24 Agustus 2026
- 24 Agt 2026 18:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin pad penutupan perdagangan Senin 24 Agustus 2026 ke posisi Rp17.721 per dolar AS.
- Pasar merespons negatif defisit transaksi berjalan Indonesia yang mengalami pelebaran.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin 24 Agustus 2026. Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke posisi Rp17.721 per dolar AS.
Washington tampaknya akan melancarkan perang baru terhadap Teheran setelah gagal melakukan pertempuran secara militer. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan hal tersebut menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.
"AS menyatakan akan mengenakan rangkaian sanksi paling keras yang pernah ada terhadap Iran,” ujarnya. Ibrahim juga mengutip pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahwa D-Day ekonomi akan segera tiba di Iran.
Hal itu diungkapkannya di tengah kebuntuan yang terjadi di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya. “Dia kemungkinan akan memberikan keterangan pers pada Senin 24 Agustus 2026 petang waktu AS,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Iran mengecam rencana AS tersebut melalui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaee. Menurut dia, Presiden Masoud Pezeshkian sebenarnya sudah menyerukan solusi diplomatik.
"Tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor jika perang ekonomi berlanjut,” ujarnya. “Baik melalui Selat Hormuz atau di lokasi apapun di Teluk Persia.”
Selain pertikaian AS-Iran, indikator ekonomi AS juga mempengaruhi sentimen di pasar keuangan. S&P Global merilis purchasing managers index (PMI) sektor jasa AS yang mencapai 56,8, di atas perkiraan pada angka 54.
Namun, PMI manufaktur AS melambat dari 53,9 menjadi 53,2, level terendah dalam lima bulan terakhir. Selain itu, masih ada kekhawatiran naiknya inflasi akibat harga energi yang dapat memicu kenaikan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar merespons negatif deficit transaksi berjalan Indonesia yang mengalami pelebaran. Pada triwulan II 2026, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai USD12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ini berarti meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat USD3,6 miliar atau 1 persen terhadap PDB,” kata Ibrahim. Menurut dia, pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer.
Salah satunya adalah kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia. "Walaupun, transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan tetap terjaga," ucapnya.
Pada triwulan II 2026, NPI mengalami defisit USD900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan USD9,1 miliar pada triwulan I 2026. Ini ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus USD12 miliar di triwulan II 2026.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap terjaga hingga akhir Juni 2026, yang tercatat sebesar USD145,6 miliar. Melihat perkembangan itu, para analis memperingatkan kesenjangan transaksi berjalan indonesia mungkin akan terus berlanjut.
Hal ini seiring masih tingginya harga minyak, volume impor minyak yang masih kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan ekonomi global. “Pada saat bersamaan, ketegangan geopolitik antara AS, Israel dan Iran, serta Rusia dan Ukraina terus," kata Ibrahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....