Penguatan Rupiah Berlanjut Hari Ini, Dibuka pada Level Rp17.805 per dolar AS

  • 20 Agt 2026 10:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.805 per dolar AS
  • Faktor eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan mata uang antara lain sinyal intervensi the Fed ke pasar surat berharga AS
  • Di dalam negeri, pasar merespons positif keputusan BI mempertahankan suku bunga atau BI Rate di 5,75 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.805 per dolar AS.

Pada Rabu kemarin rupiah ditutup naik 0,12 persen ke posisi Rp17.840 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah hari ini kemungkinan terapresiasi ke Rp17.750 per dolar AS," kata Fikri C. Pemana, analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Kamis, 20 Agustus 2026

Menurut Fikri, faktor eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan mata uang antara lain sinyal intervensi the Fed ke pasar surat berharga AS. Kemudian rilis risalah rapat the Fed bulan Juli menyebutkan, potensi kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menurun.

Sementara itu faktor geopolitik di Timur Tengah yg masih tidak menentu. "Apalagi Uni Emirat Arab pada Rabu kemarin mengumumkan membekukan aset-aset milik Iran," ucap Fikri.

Di dalam negeri, pasar merespons positif keputusan BI mempertahankan suku bunga atau BI Rate di 5,75 persen. Sehingga nilai tukar rupiah menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan pada Rabu kemarin.

Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan, penguatan rupiah ditopang oleh aliran masuk modal asing sebesar Rp1,8 miliar. Aliran modal asing tersebut melalui Portofolio SRBI dan SBN.

"Kondisi pasar yang membaik memberikan BI ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini . Meskipun ketidakpastian Timur Tengah masih tinggi," kata Ekonom Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto

BI juga mulai menggeser bauran kebijakan menuju stabilisasi rupiah yang lebih terarah serta kebijakan makroprudensial lebih pro-growth. "Kami melihat ruang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin masih terbuka," ucap Rully.

Kenaikan suku bunga dapat terjadi karena masih ada potensi kenaikan suku bunga the Fed dan penguatan indeks dolar AS. Menurut Rully, kenaikan suku bunga akan menjadi lebih relevan apabila rupiah melemah melampaui Rp18.000 per dolar AS.

Jika inflasi kembali berada di atas 3,5 persen hingga akhir tahun 2026, juga berpeluang mendorong kenaikan BI Rate. Inflasi berpotensi naik karena risiko kenaikan harga pangan akibat El Niño dan harga minyak global yang lebih tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....