Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Masih Sulit Turun di bawah Rp18.000 per Dolar AS

  • 16 Jul 2026 09:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, pada pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka turun 0,02 persen menjadi Rp18.071 per dolar AS.
  • Bank Indonesia mengakui meski fundamental kuat, ada faktor lain yang menyebabkan rupiah sulit menguat dengan cepat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis 16 Juli 2026 terpantau melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka turun 0,02 persen menjadi Rp18.071 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, rupiah juga naik 0,13 persen ke posisi Rp18.068 per dolar AS saat penutupan perdagangan. Bank Indonesia (BI) mengakui meski fundamental kuat, ada faktor lain yang menyebabkan rupiah sulit menguat dengan cepat.

"Fundamental kita sebenarnya ok, tapi memang ada persepsi trust dan confidence dari luar," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. Menurut dia, hal ini karena indeks dolar AS naik, sehingga semua pada memegang dolar dan produk luar lainnya.

Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan nilai tukar rupiah masih sulit menembus level di bawah Rp18.000. Meskipun indeks dolar AS sebenarnya relatif stabil pada kisaran 100,9.

"Ini membuat rupiah masih menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan," kata analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa. Menurut dia, sepanjang Juli 2026 depresiasi rupiah mencapai 0,8 persen, sedangkan sejak Januari 2026 rupiah telah terdepresiasi 8,2 persen,"

Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga tenor 10 tahun turun ke sekitar 7,24 persen. Sementara dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Rabu 15 Juli 2026, BI menyerap sekitar Rp15 triliun.

Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan tetap di 7,7 persen. Penurunan imbal hasil SBN tenor 10 tahun menunjukkan instrumen jangka pendek menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding tenor panjang.

Menurut Jessica, struktur seperti ini cenderung membatasi potensi apresiasi rupiah secara signifikan. Ini karena arus dana asing menjadi lebih berorientasi pada instrumen jangka pendek.

Fenomena ini merupakan konsekuensi dari intervensi BI yang berfokus menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Namun, itu belum cukup untuk membangun rally penguatan yang berkelanjutan.

"Ini memperkuat pandangan kami bahwa BI kemungkinan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat," ujarnya. Meskipun, lanjutt Jessica, sentimen pasar membaik usai penegasan kembali peringkat BBB/Stable oleh S&P.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....