Dinas Kesehatan Kota Jambi Menemukan 448 Kasus Tuberkulosis

  • 25 Mar 2024 21:46 WIB
  •  Jambi

KBRN, Jambi : Selama tahun 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi telah menemukan 448 kasus Tuberkulosis atau TBC. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika.

Upaya untuk mendeteksi dini dan menemukan penderita penyakit Tuberkulosis atau TBC terus dilakukan oleh Dinkes Kota Jambi. TBC merupakan penyakit kronis yang penyebarannya sangat mudah dan cepat, serta menjadi ancaman kesehatan global. “Untuk di Kota Jambi gambaran kasus TB yang ternotifikasi tahun 2023 kami sudah menemukan kasusnya sebanyak 2.581. Walaupun ini masih rendah, baru tercapai 78 persen dari target Kementerian Kesehatan,” kata Rini Kartika, Senin (25/3/2024).

"Untuk tahun 2024 sudah dapatkan 448 kasus sampai hari ini. Masih butuh kerja keras dari kita semua untuk mencapai target-target Kementerian Kesehatan,

Menurutnya, Dinkes terus berupaya untuk menemukan sebanyak-banyaknya penderita TBC agar bisa mendapat pengobatan secara tuntas sehingga dapat memutus mata rantai penyebaran TBC. Untuk itu, Dinkes Kota Jambi telah melibatkan seluruh fasilitas kesehatan atau faskes yang ada di Kota Jambi, baik Puskesmas, maupun klinik-klinik, termasuk klinik yang ada di Lembaga pemasyarakatan untuk melakukan deteksi dini.

"Prinsipnya kan kita memutus mata rantai penularan. Kita menemukan kasus TB sebanyak-banyaknya dan sedini mungkin, sehingga tidak memungkinkan menularkan ke sekitarnya, " ujar Rini Kartika.

Indikasinya antara lain adalah jika ada seseorang yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, atau batuk berdarah maka disarankan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Ditambahkannya, jika dari hasil pemeriksaan lanjutan seseorang dinyatakan positif TBC, maka yang bersangkutan harus mengkonsumsi obat secara teratur dan tanpa terputus selama enam bulan, hingga dinyatakan sembuh. Untuk itu diperlukan orang terdekat yang menjadi pendamping yang akan selalu mengingatkan pasien untuk mengkonsumsi obat sesuai aturan.

"Biasanya setelah minum obat satu bulan biasanya pasien merasa baikan. Tapi bakteri di dalam tubuhnya belum mati, jadi obatnya memang tidak boleh putus, " katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....