Majelis Penderitaan Rakyat Menolak Ternak Nyamuk Wolbachia

  • 18 Des 2023 13:38 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Kebijakan Kementrian Kesehatan RI yang melakukan ternak nyamuk Wolbachia di wilayah Kecamatan Ujungberung Kota Bandung, ditentang oleh pendiri Majelis Penderitaan Rakyat Ali Ridho Assegaf alias Babe Aldo. Menurutnya metode ternak nyamuk Wolbachia untuk melawan nyamuk demam berdarah tidak jelas kajiannya, dan membahayakan warga.

"Agenda hari ini Aksi ke DPRD Jabar, untuk menyebarkan informasi ke masyarkat dan dewan harus mengambil langkah, karena ini membahayakan, siapa nanti yang bertanggung jawab?. Kita tolak penyebaran nyamuk itu, jika Kemenkes tidak membuka komunikasi dengan rakyat, jangan rakyat dijadikan ujicoba, kalau ujicobanya di gedung DPRD silahkan, jangan anak anak dikorbankan," kata Babe Aldo, di halaman DPRD Jabar, Senin (18/12/2023).

Tegasnya, tidak mungkin ada resiko dengan ternak nyamuk Wolbachia, jangan membohongi rakyat dengan segala pernyataan yang tidak tahu dampaknya.

"Nyamuk ini bisa saja diisi Covid, HIV, Chikungunya, Malaria, kan kita tidak tahu, karena nyamuk ini import lalu dikembak biakan di kita, banyak kemungkinan itu. Termasuk ada jurnal ilmiah dampaknya akan terasa 10 hingga 15 tahun lagi, benar benar bahaya," imbuhnya.

"Oleh karena itu, kami akan berkeliling mengedukasi masyarakat terkait resiko nyamuk Wolbachia ini. Karena Pemerintah hanya memberitahukan manfaatnya, tidak resikonya,"

Ada informasi di Ujungberung ada yang terkena Chikungunya, Babe Aldo menila dalam projek ini terdapat bisnis farmasi yang sangat menguntungkan.

"Inikan proyek swasta, mana ada mereka ngasih 66 milyar, lalu mereka tidak minta kembalian. Pasti minta dong," bebernya.

Sebagai rujukan, jelas Babe Aldo, Singapura saja yang sudah ternak nyamuk wolbachia untuk melawan nyamuk aeds aegypti gagal.

“Apa kata dunia, kalau proyek gagal justru ‘dibeli’ Indonesia,” ungkapnya.

Singapura, jelas Babe Aldo sudah melakukan proyek itu sejak 2016 tetapi pada tahun 2022 dilaporkan ada 32.173 kasus DBD.

Angka itu, terang Babe Aldo, adalah angka tertinggi kedua dalam satu tahun, rekor sebelumnya 35.266 kasus pada 2020.

Bahkan, Dr Ng Lee Ching, direktur institut kesehatan lingkungan di NEA mengatakan, proyek Wolbachia bukanlah solusi paten untuk mengatasi penularan DBD.

“Kita audiensi dengan wakil rakyat. Agar mereka mau menolak ternak nyamuk Wolbachia ini. Agar kita punya dasar hukum saat mensosialisasikan dampak ternak nyamuk," tandasnya.

Warga Ujungberung, Yuyu Wahyudi mengatakan Nyamuk Wolbachi diternak pemerintah kota dengan menaruh ember-ember berisi air bersih.

“Satu kelurahan disebar sekitar 300 ember, satu ember berisi 200 telur wolbachia,” katanya.

Rencananya kalau nggak ada penolakan upaya ini akan dilanjutkan ke kelurahan-kelurahan lain yang ada di sekitar kelurahan Pesanggrahan, seperti kelurahan Pasirjati, Pasir Wangi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....