Kesehatan

Bahaya Pernikahan Dini, Siswa SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas Diharapkan Jadi Agen Perubahan

Oleh: Yanuar Adi Editor: SUPRIANTOspj 20 Oct 2023 - 11:56 Purwokerto
Bahaya Pernikahan Dini, Siswa SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas Diharapkan Jadi Agen Perubahan
Siswa SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas mengikuti pembekalan PKBR dan bahaya pernikahan dini

KBRN, Purwokerto: Puluhan siswa-siswi dari SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas mendapat pembekalan terkait Persiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) dan bahaya pernikahan dini. Kegiatan tersebut dilangsungkan di Museum Panglima Besar Jendral Soedirman, Jumat (20/10/2023)

Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Karanglewas, Dra Mamik Asih mengungkapkan kegiatan itu bertujuan agar para remaja dan memiliki gambaran tentang masa depannya. Sehingga mereka nantinya akan melangkah menjadi remaja yang baik, berkualitas dan sehat.

“Kami memberikan pembinaan dengan beberapa materi, bagaimana remaja menyiapkan PKBR. Kemudian bagaimana remaja menyiapkan dirinya untuk menjadi remaja yang sehat,” katanya.

Dia melanjutkan, remaja yang sehat ketika di masa yang akan dating menjadi calon pengantin dan melangsungkan pernikahan maka akan siap dengan kehamilan. Kehamilan tersebut juga akan menjadi kehamilan yang sehat dengan kemungkinan anak yang dilahirkan jauh dari resiko stunting.

Lebih lanjut Dra Mamik juga menyampaikan terkait bahaya dari berlangsungnya pernikahan diri. Pernikahan di bawah umur memiliki banyak resiko. Dari segi Kesehatan, calon orangtua khususnya ibu masih belum siap secara fisik. Perkembangan tubuh yang belum matang membawa banyak resiko, termasuk bayi lahir tidak dalam kondisi sehat.

“Banyak dampak negative dari pernikahan dini. Ketika terjadi kehamilan organ reproduksi mereka belum siap. Rentan terjadi keguguran, kondisi Rahim tidak sehat sehingga memicu terjadinya penyakit. Dan juga akan membatasi gerak mereka di usia yang belum siap. Bagaimana mereka dapat mendidik anak-anaknya Ketika mereka sendiri belum siap,” tegasnya.

Secara psikologi, sambung Dra Mamik, pasangan usia dini belum siap dibebani dengan tanggungjawab untuk merawat anak. Darah muda yang masih bergolak dalam diri mereka seringkali membuat ego dan emosi labil.

Dari sudut pandang ekonomi, mereka juga belum siap untuk mencari penghasilan guna menafkahi keluarga. Acapkali mereka harus putus sekolah, sehingga kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang layak juga terpangkas. Sejumlah faktor tersebut kerap menjadi alasan kenapa pernikahan dini banyak berakhir dengan perceraian.

“Pernikahan dini itu biasanya terjadi by accident, karena tidak ada penghasilan secara ekonomi itu juga menjadi permasalahan. Sementara mereka harus membiayai hidup keluarga tapi tidak ada pemasukan, itu menjadi permasalahan yang lebih rumit lagi. Uang memang bukan segalanya tapi semuanya membutuhkan biaya,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Waka Kesiswaan SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas Isnaini Farida Arif Istiqomah mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia berharap para siswa yang mengikuti kegiatan dapat menjadi agen perubahan bagi teman sebayanya.

Peserta dari kegiatan tersebut merupakan siswa kelas X dan XI dari SMK Ma’arif NU 2 Karanglewas dengan rentang usia antara 15-17 tahun. Wanita yang akrab disapa Ida ini mengakui jika usia remaja memang menjadi usia dimana anak-anak penasaran untuk mengetahui hal-hal yang baru. Jika tidak diarahkan bukan tidak mungkin dapat membawa generasi muda ke hal-hal yang negatif.

“Harapannya mereka dapat menjadi pelopor untuk menghindari hal-hal yang menyimpang. Terutama penyebab terjadinya pernikahan dini. Setelah mengikuti kegiatan ini mereka dapat menjadi agen perubahan di kelasnya masing-masing. Mereka bisa mengajak teman-temannya untuk menjauhi hal-hal semacam itu,” harapnya. (YN)