Menkes Upayakan Pengadaan Alat Modern untuk Deteksi Udara

  • 01 Sep 2023 04:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI terus berupaya mengendalikan polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya sedang me-review beberapa alat modern untuk mendeteksi udara secara digital.

Sebelumnya, Menkes menyebut, di tiap puskesmas sebenarnya sudah ditempatkan sanitarian kit sebagai alat untuk deteksi udara di puskesmas. Namun, Menkes menilai sanitarian kit merupakan alat lama yang masih dilakukan secara manual.

“Sekarang saya sedang minta review, alat-alat apa sih yang paling bagus untuk dipasang di puskesmas, karena toh kita ada dananya. Memang nanti apapun datanya, itu harus terintegrasi dengan data Kementerian Kesehatan," kata Menkes usai Launching Nasional Integrasi Layanan Primer dan Penguatan Perencanaan Pembangunan Kesehatan di Jakarta, Kamis (31/8/2023).

Budi Gunadi menambahkan, selama ini puskesmas memang memiliki fungsi kesehatan lingkungannya yang dilengkapi dengan alat. Sayangnya, alat tersebut masih menggunakan teknologi lama.

Sementara, ada alat yang lebih canggih yakni Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC–MS) diperlukan seperti cara Tiongkok mendeteksi senyawa kimia di udara. GC-MS merupakan metode pemisahan senyawa organik yang menggunakan dua metode analisis senyawa yaitu kromatografi gas (GC) dan spektrometri massa (MS).

GC digunakan untuk menganalisis jumlah senyawa secara kuantitatif sedangkan, MS digunakan untuk menganalisis struktur molekul senyawa analit. “GC-MS kan meniru dari China, jadi ketika ini kejadian, saya meminta teman-teman mempelajari dari China,” ucap Budi.

Particulate matters (PM) PM2.5 bisa datang dari berbagai macam sumber, biasanya dari pembakaran karbon. Bisa dari sampah, bensin, solar, dan pembakaran lainnya.

“Kalau satu daerah tinggi PM2.5-nya, kadang-kadang kita sulit mengidentifikasi penyebabnya yang mana. Apa mobil, pabrik, atau pembangkit listrik? Itu kan susah dan kadang-kadang saling salah-salahan.”

Namun, di Negeri Tirai Bambu, Menkes mengatakan hal seperti ini sudah bisa diketahui dengan alat. “Di China udah punya alatnya, setiap partikel PM2.5 ini kita perlu ukur dari tiga aspek. Bentuknya, beratnya, sama jenis kimianya. Nah, beratnya diukurnya pakai GC-MS, bentuknya diukur pakai X-ray, dan kimianya pakai infrared,” katanya memaparkan.

“Jadi kalau kita punya tiga alat ini, GC-MS, X-ray, dan Infrared, kita bisa tahu beratnya, bentuknya, sama senyawa kimianya. Kalau kita tahu tiga hal ini, maka kita bisa tahu asal PM2.5-nya dari mana.”

Budi mencontohkan, jika di Bekasi ditemukan banyak PM2.5 maka bisa diteliti berat, bentuk, dan senyawa kimianya. Misalnya PM2.5 nya berasal dari pembakaran sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, maka yang perlu dibereskan adalah TPA-nya.

“Makanya di China tuh mereka bisa lebih tepat program intervensinya karena mereka tahu sumber polutannya,” ujar Menkes Budi Gunadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....