Dokter: Smartwatch Bukan Alat Diagnosis Jantung, Pentingnya Pemeriksaan Medis
- 04 Okt 2026 11:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Smartwatch dapat membantu memantau aktivitas jantung tetapi bukanlah alat utama untuk mendeteksi penyakit jantung.
- Pemeriksaan medis langsung ke dokter adalah metode terpercaya untuk deteksi dini kesehatan jantung, terutama ketika ada gejala atau keluhan.
- dr. Isman Firdaus, Dokter Spesialis Jantung dari RS Harapan Kita, menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang akurat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Smartwatch (jam pintar) membantu memantau aktivitas jantung, tetapi perangkat tersebut bukan alat utama mendeteksi penyakit jantung. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Interventional Kardiologi dan Kritikal Kardiolog RS Harapan Kita, dr. Isman Firdaus, menekankan pentingnya pemeriksaan medis.
“Untuk deteksi dini kesehatan jantung seharusnya bukan dengan smartwatch tapi dengan pemeriksaan biasa. Dengan gejala, keluhan kemudian kontrol ke dokter,” ujarnya saat berbincang bersama Pro3 RRI, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurutnya, pemeriksaan dapat mencakup gula darah dan Elektrokardiogram (EKG). Ia mengatakan smartwatch lebih tepat digunakan untuk memantau kondisi tubuh selama menjalani aktivitas.
Smartwatch dapat memantau denyut nadi, laju jantung, kadar oksigen, tekanan darah, dan saturasi. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada fitur serta aktivitas pengguna saat menggunakan perangkat.
“EKG untuk di smartwatch itu beberapa fiturnya bisa untuk menilai ada gangguan di irama. Terutama dalam hal fibrilasi atrium atau atrial fibrilasi denyut yang tidak teratur,” katanya.
Ia mengatakan, fibrilasi atrium dapat meningkatkan risiko stroke, kelelahan, dan gagal jantung pada kondisi tertentu. Smartwatch dapat memberikan gambaran awal, tetapi pengguna tetap memerlukan pemeriksaan.
“Smartwatch bisa sebagai monitoring awal dan screening ketika melihat ada sesuatu yang abnormal. Pengguna perlu segera memeriksakan diri jika menemukan kondisi yang tidak teratur,” katanya.
Ia menjelaskan pengguna juga perlu memahami batas denyut jantung saat melakukan aktivitas fisik. Rumus sederhana dapat membantu pengguna memperkirakan denyut jantung maksimal berdasarkan usia.
Pengguna berusia 50 tahun, misalnya, memiliki perkiraan denyut jantung maksimal 170 kali per menit. Namun, batas aktivitas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Ia juga menilai kebiasaan olahraga perlu berjalan bersama pemeriksaan kesehatan, terutama bagi kelompok usia produktif. Pemeriksaan dapat mencakup kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan irama jantung.
“Pengguna tidak boleh memaksakan olahraga ketika tubuh mengalami keluhan. Demam, kelelahan, kurang tidur, dan rasa tidak nyaman perlu menjadi pertimbangan sebelum beraktivitas,” katanya.
Isman juga mengingatkan pengguna memperhatikan tanda bahaya atau red flag selama berolahraga. Keluhan seperti pusing, nyeri dada, dan gangguan irama perlu menjadi alasan menghentikan aktivitas. (Davina Keisha Salsabila)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....