Sejarah Stetoskop dan Siapa Penemunya

  • 14 Sep 2026 13:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Stetoskop telah menemani dunia kedokteran selama lebih dari dua abad dengan terus mengalami perkembangan dan inovasi.
  • Alat ini berawal dari solusi sederhana untuk mengatasi keterbatasan dalam pemeriksaan dada pasien secara langsung.
  • Stetoskop digunakan untuk mendengarkan detak jantung, pernapasan, dan berbagai suara tubuh lainnya dalam praktik pemeriksaan medis modern.

RRI.CO.ID, Jakarta - Stetoskop telah menemani dunia kedokteran selama lebih dari dua abad dan terus mengalami perkembangan. Alat ini bermula dari solusi sederhana untuk mengatasi keterbatasan pemeriksaan dada pasien.

Stetoskop digunakan untuk mendengarkan detak jantung, pernapasan, serta berbagai suara tubuh lainnya. Praktik mendengarkan suara tubuh sebenarnya telah dilakukan sejak zaman kuno sebelum stetoskop ditemukan.

Dokter masa itu menempelkan telinga langsung ke dada pasien untuk menilai kondisi kesehatan. Metode tersebut dikenal sebagai auskultasi langsung, tetapi dinilai kurang praktis dan kurang presisi.

Melansir laman Northern University Bouve College of Health Science, Pada 1816, dokter Prancis René Laennec mengembangkan stetoskop saat memeriksa seorang pasien perempuan. Ia menggulung kertas menjadi tabung untuk menghindari kontak langsung dengan dada pasien.

Melalui percobaan itu, Laennec mendapati suara jantung dan pernapasan terdengar lebih jelas melalui tabung. Ia kemudian membuat tabung kayu berongga berbentuk corong dan menamainya stetoskop.

Laennec mencocokkan suara dari stetoskop dengan kondisi patologis yang ditemukan saat autopsi pasien. Ia mempublikasikan temuan itu pada 1819 dan membentuk pendekatan baru diagnosis fisik.

Melansir American Lung Association, Pada 1851, dokter Irlandia Arthur Leared mengembangkan stetoskop binaural dengan dua earpiece. Setahun kemudian, George Cammann membuat versi fleksibel berbahan karet dengan earpiece gading.

Pengembangan tersebut memungkinkan suara diteruskan ke kedua telinga dan mengurangi gangguan dari luar. Namun, sejumlah dokter sempat meragukan konsistensi hasil pemeriksaan menggunakan dua earpiece.

Desain binaural akhirnya diterima luas dan menjadi dasar stetoskop modern yang digunakan tenaga kesehatan. Pada awal abad ke-20, chest piece berkembang dengan tambahan bel dan diaphragm.

Bel digunakan untuk menangkap suara berfrekuensi rendah dalam pemeriksaan fisik pasien. Sementara diaphragm digunakan untuk mendengarkan suara tubuh dengan frekuensi lebih tinggi.

Pada 1960-an, ahli jantung Harvard David Littmann memperkenalkan rancangan stetoskop yang lebih ringan. Rancangan itu memiliki kemampuan transmisi suara yang lebih baik bagi tenaga kesehatan.

Littmann mengembangkan chest piece terbuka dan tertutup, selang pendek, serta desain yang ringan. Rancangannya kemudian menjadi dasar bagi banyak stetoskop yang digunakan hingga saat ini.

Teknologi kini mencakup stetoskop analog, elektronik, dan digital yang dapat merekam suara tubuh. Stetoskop digital dapat menyimpan rekaman untuk perbandingan dan konsultasi jarak jauh. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....