IDAI: Anak-anak Lebih Rentan terhadap Gangguan Pernapasan akibat Abu Vulkanik

  • 07 Sep 2026 13:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)menyatakan anak-anak lebih rentan mengalami gangguan pernapasan akibat sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

RRI.CO.ID, Jakarta – Anak-anak dinilai lebih rentan mengalami gangguan pernapasan akibat sebaran abu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Ini karena saluran pernapasan anak memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan orang dewasa.

Demikian disampaikan Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Wahyuni Indawati, Senin, 7 September 2026 di Jakarta. “Apabila terdapat gangguan atau paparan iritan, akan mudah terjadi sumbatan atau obstruksi pada saluran pernapasan anak,” katanya.

Wahyuni mengatakan sistem pernapasan anak yang belum berkembang sempurna membuatnya lebih rentan terhadap gangguan akibat paparan abu vulkanik. Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena saluran napas anak mudah tersumbat saat terpapar iritan.

Wahyuni menambahkan anak memiliki pola pernapasan yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut membuat jumlah paparan udara yang masuk ke tubuh anak menjadi lebih banyak.

“Saluran napas anak lebih kecil, sehingga gangguan pernapasan lebih mudah terjadi,” ucapnya. “Anak juga bernapas lebih cepat, sehingga jumlah udara yang mengandung polutan masuk ke tubuh lebih banyak.”

Menurut Wahyuni, aktivitas anak yang lebih banyak dilakukan di luar ruangan meningkatkan risiko paparan polusi dan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut membuat anak perlu mendapat perlindungan lebih baik, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat peningkatan polusi.

Menurut dia, anak dengan gangguan pada hidung juga cenderung bernapas melalui mulut. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, karena proses penyaringan udara yang seharusnya dilakukan hidung tidak berlangsung optimal.

“Kalau terjadi paparan polusi di luar, tentu anak-anak menjadi kelompok paling rentan terkena dampaknya, katanya. “Karena itu, anak perlu mendapat perlindungan lebih baik ketika berada di lingkungan dengan tingkat polusi udara tinggi.”

Wahyuni menegaskan perlindungan terhadap anak dari paparan polusi dan iritan perlu menjadi perhatian. “Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan dan memastikan anak terlindungi saat kualitas udara menurun akibat paparan polusi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....