Apa itu Resistensi Antibiotik? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya
- 29 Agt 2026 20:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri, namun penggunaan yang tidak tepat dapat memicu resistensi.
- Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri tidak lagi merespons antibiotik secara efektif, membuat infeksi lebih sulit ditangani.
- Kondisi resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan memerlukan penggunaan antibiotik yang bijak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Antibiotik merupakan jenis obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat memicu resistensi atau kebal terhadap antibiotik.
Melansir Kementerian Kesehatan, resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri tidak lagi merespons antibiotik secara efektif. Kondisi tersebut membuat infeksi tertentu menjadi lebih sulit ditangani dengan obat yang sebelumnya efektif.
Penggunaan antibiotik tanpa resep juga dapat meningkatkan risiko resistensi karena obat belum tentu sesuai dengan penyebab infeksi. Menghentikan pengobatan sebelum waktu yang ditentukan dokter dapat meningkatkan peluang bakteri tetap bertahan di dalam tubuh.
Bakteri ini kemudian dapat berkembang dan menjadi lebih sulit ditangani dengan antibiotik tertentu. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan antibiotik.
Melansir Primaya Hospital, Resistensi juga dapat terjadi ketika antibiotik digunakan untuk kondisi yang tidak memerlukannya. Contohnya, antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh virus.
Penggunaan antibiotik secara tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko bakteri mengembangkan resistensi terhadap obat. Selain resistensi, konsumsi antibiotik yang tidak diperlukan dapat menimbulkan efek samping seperti diare, mual, dan ruam.
Pemilihan antibiotik perlu mempertimbangkan kondisi pasien, jenis infeksi, dosis, durasi, serta cara pemberiannya. Durasi penggunaan antibiotik juga harus ditentukan oleh dokter, sehingga masyarakat tidak dianjurkan menentukan durasi konsumsi sendiri.
Kementerian Kesehatan menganjurkan antibiotik digunakan sesuai resep, tidak dihentikan sebelum waktunya, serta tidak dibagikan kepada orang lain. Sisa antibiotik juga sebaiknya tidak disimpan untuk digunakan kembali ketika muncul keluhan kesehatan pada kemudian hari.
Jika kondisi belum membaik setelah antibiotik habis, pasien perlu kembali berkonsultasi agar penyebab infeksi dapat dievaluasi. Pemeriksaan lanjutan dapat membantu dokter menentukan apakah diperlukan perubahan atau penyesuaian pengobatan. (Shafa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....