Kemenkes Catat 25 Daerah Alami Kualitas Udara Tidak Sehat

  • 29 Agt 2026 06:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan mencatat 25 kabupaten/kota di Indonesia mengalami kualitas udara tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
  • Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan pemantauan kualitas udara terus dilakukan di wilayah terdampak untuk mengantisipasi risiko kesehatan masyarakat.
  • Data per 27 Agustus 2026 menunjukkan sejumlah daerah masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya akibat paparan asap karhutla.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 25 kabupaten/kota di Indonesia mengalami kualitas udara tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemantauan kualitas udara terus dilakukan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Data 27 Agustus 2026 menunjukkan sejumlah daerah masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya akibat karhutla.



“Yang masih berbahaya statusnya itu ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Kadarnya lebih dari 300 untuk PM2,5,” kata Dante Saksono Harbuwono saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Jumat, 28 Agustus 2026.

Dante menjelaskan, kadar PM2,5 di atas 300 menunjukkan kondisi udara yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Selain Pontianak, sejumlah daerah di Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat juga masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.

“Sebanyak 25 kabupaten/kota di seluruh Indonesia masih memiliki status kualitas udara tidak baik akibat bencana karhutla. Pemerintah terus memantau kondisi udara untuk mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di wilayah terdampak,” ucap Dante.

Dante mengatakan, pencemaran udara akibat karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Menurutnya, paparan partikel PM2,5 dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan dan memicu serangan asma pada kelompok rentan.

“Partikel PM2,5 itu bisa menimbulkan stimulasi inflamasi atau peradangan di dalam saluran pernapasan. Untuk mereka yang sudah berbakat asma, ini dapat mencetuskan asma,” ujarnya.

Wamenkes Dante menyebut serangan asma berat dapat menyebabkan kegagalan pernapasan. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

“Gangguan pematangan paru pada anak terutama terjadi pada bayi dan balita. Kalau terdampak, pematangan parunya terhambat dan bisa menyebabkan kegagalan napas,” ucap Dante mengungkapkan.

Dante mengungkapkan PM2,5 akibat karhutla tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada mata dan kulit. Partikel tersebut juga memengaruhi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama bagi kelompok rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....