Susu Pasteurisasi dan UHT, Ini Perbedaan Proses dan Daya Simpannya

  • 26 Agt 2026 00:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Susu pasteurisasi dan UHT memiliki perbedaan signifikan dalam proses pemanasan, daya tahan simpan, dan kandungan nutrisi.
  • Memilih jenis susu yang tepat berdasarkan kebutuhan keluarga dan preferensi konsumsi dapat mendukung gaya hidup sehat.
  • Susu merupakan sumber penting protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh optimal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Susu merupakan salah satu sumber protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Di pasaran, susu tersedia dalam berbagai jenis, termasuk susu pasteurisasi dan UHT yang memiliki sejumlah perbedaan.

Melansir dari Halodoc, perbedaan utama susu pasteurisasi dan UHT terletak pada metode pengolahan serta lama penyimpanannya. Kedua jenis susu tersebut tetap mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Susu pasteurisasi dipanaskan pada suhu tertentu dalam waktu singkat untuk mengurangi mikroorganisme berbahaya. Metode high-temperature short-time (HTST) umumnya menggunakan suhu sekitar 72 derajat Celsius selama 15 detik.

Melansir Greenfields, proses pasteurisasi dapat dilakukan pada suhu 72 hingga 85 derajat Celsius selama 10-15 detik. Pemanasan tersebut bertujuan mengurangi bakteri berbahaya sekaligus mempertahankan karakteristik alami susu.

Berbeda dengan pasteurisasi, susu UHT diproses menggunakan suhu sangat tinggi dalam waktu yang jauh lebih singkat. Susu UHT umumnya dipanaskan sekitar 135 hingga 150 derajat Celsius selama dua hingga lima detik.

Proses tersebut membuat jumlah mikroorganisme dalam susu menjadi sangat rendah sebelum produk dikemas. Karena itu, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang sebelum kemasannya dibuka dalam jangka waktu lebih lama.

Sementara itu, susu pasteurisasi memiliki masa simpan lebih pendek sehingga membutuhkan penyimpanan dalam lemari pendingin. Susu pasteurisasi biasanya bertahan beberapa hari hingga sekitar satu minggu ketika disimpan dengan benar.

Perbedaan berikutnya dapat dilihat dari karakteristik rasa dan tekstur setelah susu melalui proses pemanasan. Susu UHT dapat mengalami perubahan rasa dan tekstur karena penggunaan suhu pemanasan yang sangat tinggi.

Meski begitu, kandungan nutrisi susu UHT dan pasteurisasi secara umum tidak berbeda jauh. Beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan B12, mungkin sedikit berkurang selama proses UHT.

Dari segi kepraktisan, susu UHT lebih mudah disimpan karena tidak membutuhkan lemari pendingin sebelum kemasannya dibuka. Karakteristik tersebut membuat UHT lebih praktis untuk penyimpanan dan transportasi dalam waktu relatif panjang.

Sebaliknya, susu pasteurisasi membutuhkan perhatian lebih terhadap suhu penyimpanan karena masa simpannya relatif singkat. Produk ini perlu segera dimasukkan ke lemari pendingin agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.

Dengan demikian, susu pasteurisasi dan UHT memiliki keunggulan berbeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Pilihan susu sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan penyimpanan, preferensi rasa, kandungan gizi, serta informasi pada label kemasan. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....