Wamenkes Benjamin Apresiasi Solidaritas Tenaga Medis Tangani Gempa NTT

  • 18 Agt 2026 20:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Tangerang - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus mengapresiasi solidaritas tenaga medis berbagai daerah yang cepat membantu penanganan korban gempa bumi di NTT. Menurutnya, gerak cepat tenaga medis menunjukkan kepedulian dan semangat gotong royong dalam memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Benjamin menyebut tenaga kesehatan berbagai daerah sukarela menuju wilayah terdampak untuk memperkuat pelayanan medis bagi korban gempa. Menurutnya, solidaritas tenaga kesehatan tersebut menunjukkan semangat gotong royong serta kebanggaan terhadap Indonesia dalam menghadapi bencana.

“Yang saya ingin sampaikan bahwa Indonesia ini kita harus bangga. Saya kaget juga tiba di Labuan Bajo, ternyata teman-teman dokter sudah banyak yang datang dari berbagai daerah,” kata Benjamin Paulus saat diwawancarai awak media di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 18 Agustus 2026.

Ia menyebut, tenaga medis datang antara lain dari Makassar, Surabaya, Kupang, Bali, dan sejumlah rumah sakit Kementerian Kesehatan. Bahkan, delapan dokter ortopedi berangkat secara mandiri untuk membantu penanganan korban.

“Jadi ada delapan dokter ahli ortopedi, khususnya, mereka berangkat sendiri. Itu yang saya bilang, jadi kecepatan dan solidaritasnya luar biasa,” ujarnya.

Benjamin mengatakan tenaga medis dari Labuan Bajo didistribusikan ke wilayah terdampak dengan dukungan BNPB menggunakan berbagai moda transportasi. Pengiriman tenaga medis dilakukan menuju Manggarai Timur, Ngada, Ruteng, dan Ende guna memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat terdampak.

“Kami datang malam, pagi sudah disebar ke semua wilayah. Koordinasi dilakukan dengan pusat krisis BNPB yang ada di sana,” ucap Benjamin.

Benjamin mengatakan Kementerian Kesehatan menyiapkan dua rumah sakit darurat untuk memperkuat pelayanan medis di wilayah terdampak gempa. Rumah sakit darurat dibangun di Mauponggo dan Ruteng setelah fasilitas kesehatan setempat mengalami kerusakan total akibat gempa.

“Karena ada dua tempat, yaitu di Mauponggo dan Ruteng, rumah sakitnya rusak total. Jadi kami bikin rumah sakit darurat, dan rumah sakit darurat itu dibangunnya hanya sekitar lima sampai enam jam,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....