Kesehatan

Persagi Targetkan Stunting Turun di Angka 14 Persen di 2024

Oleh: Bowo Wiranto Editor: sigit budi riyanto 19 Jun 2023 - 16:20 Semarang
Persagi Targetkan Stunting Turun di Angka 14 Persen di 2024
Ketua Umum DPP Persagi, Rudatin saat pentupan kegiatan Temu Ilmiah Nasional Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) 2023 di Patra Hotel Semarang,

KBRN, Semarang: Temu Ilmiah Nasional Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) tahun 2023 dengan tema “Peningkatan Peran Tenaga Gizi dalam mendukung Transformasi Kesehatan untuk Percepatan Penurunan Stunting dan penyakit tidak menular (PTM)” resmi berahir. Kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 16 -18 Juni 2023 itu, telah memunculkan kesepakatan pengentasan masalah stunting di Indonesia.

Ketua Umum DPP Persagi, Rudatin mengatakan isu penanganan stunting di Indonesia menjadi perhatian dari Persagi. Menurutnya, penanganan stunting di Indonesia yang belum maksimal menjadi alasan dan masih menjadi pekerjaan rumah dari Persagi.

“Penanganan stunting hasil 2022 kemarin belum memuaskan,  masih diangka 21,6 persen yang terbilang tinggi. Keinginan kita di akhir 2024 itu bisa turun diangka 14 persen, ini menjadi PR yang sangat berat untuk Indonesia secara keseluruhan,” ungkapnya kepada awak media usai menutup kegiatan  Temu Ilmiah Nasional Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) 2023 di Patra Hotel Semarang, Minggu (18/6/2023) siang.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan kolaborasi baik secara internal dan semua pihak untuk membuat program yang diharapkan dapat menurunkan angka stunting di Indonesia.  "Kemarin kita mendatangkan teman-teman dari AKLI dan PPNI, bahkan kedepan kami pengen buat proyek dengan biaya mandiri yang kita kerjakan bersama,” terangnya. 

Rudati menuturkan, untuk penanganan stunting di Indonesia cukup berat karena harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Diungkapkannya, setiap tahunnya ada pernikahan, ibu menyusui dengan angka kelahiran bayi di Indonesia yang cukup tinggi.

“Kalau pendidikan konseling edukasinya tidak kena pada masyarakat langsung, stunting  ini tidak akan mudah untuk diberantas,” ujarnya.

Untuk ibu hamil, lanjutnya, bisa diukur lingkar lengan atas jika kurus bisa berakibat pada berat badan bayi lahir rendah (BBLR) yang masih dibawah 2,5 Kilogram. “Berat badan bayi lahir rendah kalau di bawah 2,5 kilogram tentu sesuatu yang menjadi PR kedepannya  karena mempengaruhi kualitas hidup manusia. BBLR ini kedepan akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental psikis itu terpengaruh,” bebernya.  

Untuk mencegah stunting, menurutnya juga bisa dilakukan pada wanitita saat usia remaja jangan sampai terkena  anemia . Dengan anemia ini, ketika sudah menikah akan berpengaruh terhadap kehamilan ibu calon si bayi.

“Kita punya program-program sendiri , di Posyandu dan pendampingan keluarga banyak hal yang harus dikerjakan. Saya setuju kalau ada setiap desa punya satu tenaga gizi, itu sangat sangat mempengaruhi terkait ini pendampingan keluarga ini,” katanya.

Selain itu, penanganan stunting di Indonesia ini perlu sinergi dan dukungan dari semua pihak. “Jadi ini perlu suatu kerjasama antar professional, antar institusi, antar profesi dan sebagainya. Banyak sekali PR kita yang harus dikerjakan dan kita tuntaskan,” pungkasnya.