Bio Farma Luncurkan Vaksin Bio-TCV untuk Tekan Kasus Tifoid

  • 16 Jul 2026 12:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Bio Farma resmi meluncurkan vaksin Bio-TCV demi menekan kasus demam tifoid di Indonesia.
  • Pemerintah Indonesia terus berkolaborasi dengan akademisi dan industri obat untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
  • Badan Pengawas Obat dan Makanan mendampingi proses uji klinis untuk menjamin kualitas produk vaksin tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Bio Farma resmi meluncurkan vaksin konjugat Bio-TCV untuk mencegah penularan penyakit demam tifoid. Langkah strategis ini merupakan upaya nyata dalam membangun kemandirian produksi obat-obatan di dalam negeri.

Indonesia mencatatkan prevalensi penyakit tifoid yang mencapai 1,6 persen dari total jumlah populasi penduduk. Angka kejadian kasus infeksi bakteri tersebut diperkirakan menyentuh 148,7 per 100.000 orang di wilayah nasional.

Direktur Utama PT Bio Farma Shadiq Akasya menjelaskan bahwa penyakit tifoid masih menjadi tantangan kesehatan. Peluncuran vaksin tersebut dilakukan dalam pameran kesehatan di Jakarta pada hari Kamis, 15 Januari 2026.

"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010, dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator," ujar Shadiq Akasya.

"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," katanya.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menyatakan bahwa kedaulatan sektor kesehatan nasional sangat krusial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatatkan sembilan juta kasus demam tifoid secara global setiap tahun.

"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," ujar Benjamin Paulus Octavianus.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menegaskan pentingnya kemandirian produksi obat. Pengembangan vaksin baru tersebut dirintis melalui kolaborasi erat dengan mitra lembaga internasional sejak tahun 2010.

"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku," kata Taruna Ikrar.

"Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti bahwa Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional".

Proses transfer teknologi dalam pembuatan produk kesehatan tersebut telah sukses dilaksanakan sejak awal tahun 2013. Uji klinis fase satu hingga tiga dijalankan bersama pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, produsen tersebut terus meningkatkan kapasitas fasilitas produksi konjugasi mereka secara berkala. Langkah taktis ini bertujuan membuka peluang ekspansi global melalui proses kualifikasi dari pihak berwenang dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....